JAKARTA, Juangsumatera.com – Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan siap memasok minyak dan gas ke negara-negara di Uni Eropa secara berkelanjutan di tengah melonjaknya harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga komoditas tersebut dipicu oleh perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Namun, tawaran kerja sama tersebut tidak diberikan tanpa syarat. Putin meminta negara-negara Eropa menghentikan tekanan politik dan mencabut sanksi ekonomi yang selama ini dijatuhkan kepada Rusia.
“Jika perusahaan-perusahaan Eropa dan pembeli-pembeli Eropa tiba-tiba memutuskan untuk mengubah orientasi mereka dan memberi kami kerja sama jangka panjang dan berkelanjutan, bebas dari tekanan politik, maka ya, kami tidak pernah menolaknya. Kami siap bekerja sama dengan orang Eropa juga,” kata Putin seperti dilansir dari Al Jazeera, Rabu (11/3/2026) dikutip dari detikfinance.
Selain itu, Putin juga meminta perusahaan-perusahaan energi Rusia memanfaatkan situasi konflik di Timur Tengah. Konflik tersebut menyebabkan Iran secara efektif menghentikan pengiriman energi melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi titik transit sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Pernyataan Putin muncul hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán mendesak Uni Eropa untuk menangguhkan sanksi terhadap minyak dan gas Rusia guna menekan lonjakan harga energi akibat konflik tersebut.
Selama empat tahun terakhir, Uni Eropa berupaya mengurangi ketergantungan terhadap energi Rusia sebagai respons atas perang yang dilancarkan Moskow di Ukraina serta sanksi yang diberlakukan setelahnya.
Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, Uni Eropa telah melarang impor minyak mentah Rusia melalui jalur laut sejak 2022. Sementara itu, ekspor minyak Rusia melalui pipa ke Hongaria dan Slovakia juga terhenti setelah terjadi kerusakan pada pipa minyak Druzhba yang melintasi Ukraina.
Sebelum perang Ukraina pecah, sekitar 40% kebutuhan gas Eropa dipasok dari Rusia. Namun angka itu terus menurun hingga pada 2025, gabungan penjualan gas pipa dan LNG Rusia hanya menyumbang sekitar 13% dari total impor energi Uni Eropa.
Hilangnya pasar Eropa selama perang Ukraina juga memaksa Rusia menjual minyak dan gas dengan diskon besar ke sejumlah negara lain, sehingga harga komoditas energi Rusia berada jauh di bawah rata-rata harga global.(red)


