JAKARTA, Juangsumatera.com – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini meminta para pimpinan instansi pemerintah memastikan setiap pekerjaan yang dilakukan memberikan dampak nyata dan terukur bagi masyarakat.
Rini menegaskan, keberhasilan seorang pemimpin organisasi tidak lagi diukur dari kelengkapan laporan tertulis maupun intensitas rapat yang digelar. Menurutnya, setiap kebijakan dan pekerjaan birokrasi harus dapat dilihat, dirasakan, serta diukur manfaatnya oleh masyarakat.
“Reformasi birokrasi tidak lagi diukur dari seberapa lengkap laporan atau seberapa intens rapat yang digelar. Dari prosedur, kita harus melangkah ke dampak yang terukur,” kata Rini dalam keterangan tertulis, Jumat (4/9/2026) dikutip dari detikcom.
Hal itu disampaikan Rini dalam acara Pelepasan Peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVI Tahun 2026 di Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta, Kamis (3/9).
Rini mengatakan keberhasilan reformasi birokrasi harus diukur berdasarkan penyelesaian persoalan fundamental yang dihadapi masyarakat. Karena itu, proyek perubahan yang dibuat peserta PKN harus menunjukkan perubahan nyata di lingkungan instansi masing-masing.
Dia mencontohkan, dampak tersebut dapat dilihat dari penurunan angka kemiskinan di daerah, kemudahan masyarakat mengurus perizinan, penurunan angka stunting, hingga semakin mudahnya masyarakat mengakses layanan dasar.
“Inilah esensi dari reformasi birokrasi kita. Dari target presiden, harus menjadi dampak nyata yang dirasakan oleh rakyat,” ujar Rini.
Rini juga menyoroti semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, persoalan kemiskinan, ketahanan pangan, kualitas sumber daya manusia, hingga pelayanan publik tidak dapat diselesaikan oleh satu instansi saja.
Karena itu, ia meminta birokrasi memperkuat harmoni, pembagian peran, dan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, persoalan pembangunan tidak akan terselesaikan jika setiap instansi masih bekerja secara silo dan mengedepankan ego sektoral.
“Kolaborasi lintas sektor bukan menjadi pilihan, tetapi menjadi syarat keberhasilan pembangunan yang merata,” katanya.
Rini menyebut seorang pemimpin harus mampu menjadi connector yang menghubungkan kebutuhan masyarakat, kepentingan politik, dan pertimbangan teknokratik.
“Pemimpin juga harus mampu membangun kepercayaan, mendengar perspektif yang berbeda, menghapus sekat birokrasi, dan menggerakkan berbagai pihak untuk bekerja menuju tujuan yang sama,” ungkap Rini.
PKN Tingkat I merupakan pelatihan kepemimpinan strategis bagi ASN hingga perwira yang menduduki atau akan menduduki jabatan pimpinan tinggi madya.
Rini meminta jejaring yang terbentuk melalui PKN dapat terus dijaga untuk bertukar perspektif, membuka ruang kolaborasi, serta menghubungkan aktor, sumber daya, dan kebijakan.
Menurutnya, peserta PKN Angkatan LXVI dapat menjadi collaborative hub dalam menyelesaikan persoalan lintas instansi, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan dan perluasan jangkauan pelayanan publik.
“Jadilah pemimpin yang bukan hanya transformasional, namun juga autentik; yang bukan hanya fokus pada target kinerja, namun juga memanusiakan manusia yang menjadi tanggung jawab kepemimpinannya,” kata Rini.
Sementara itu, Kepala LAN Muhammad Taufiq mendukung arahan Menteri PANRB. Dia mengatakan Indonesia membutuhkan pemimpin strategis nasional yang mampu bekerja melampaui batas-batas instansi.
Menurut Taufiq, visi besar pembangunan harus diterjemahkan dengan menyatukan berbagai kebijakan sektoral, mengelola kepentingan yang berbeda, dan memastikan seluruh sumber daya negara bergerak menuju hasil yang sama.
“Kepemimpinan strategis menuntut disiplin untuk membedakan antara aktivitas, keluaran, hasil, dan dampak,” kata Taufiq.
Dia menegaskan kerja keras birokrasi tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan. Menurutnya, keberhasilan baru dapat disebut tercapai apabila pekerjaan yang dilakukan benar-benar memberikan perubahan terhadap kehidupan masyarakat.
“Kita tidak boleh merasa berhasil hanya karena telah bekerja keras. Kita baru layak menyebut keberhasilan apabila kerja tersebut memperbaiki kehidupan masyarakat,” pungkas Taufiq.(Red)


