JAKARTA, Juangsumatera.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata meski sempat terjadi serangan di tengah masa jeda konflik. Trump juga berencana mempertemukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun selama periode gencatan senjata tersebut.
“Kedua pemimpin itu akan datang ke sini dalam beberapa minggu ke depan,” kata Trump kepada wartawan saat bertemu dengan duta besar kedua negara di Gedung Putih, seperti dilansir AFP dan dikutip dari detiknews, Jumat (24/4/2026).
Trump menyebut pertemuan tiga pihak itu berpotensi menjadi momen bersejarah apabila terealisasi. Ia menilai peluang terciptanya perdamaian antara Israel dan Lebanon terbuka lebar.
“Saya pikir ada peluang yang sangat bagus untuk terciptanya perdamaian. Saya pikir ini akan mudah,” ujar Trump.
Trump juga mengumumkan bahwa gencatan senjata diperpanjang selama tiga minggu. Sebelumnya, gencatan senjata diumumkan usai pertemuan pertama para duta besar pada 14 April dan dijadwalkan berakhir pada Minggu mendatang.
“Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama tiga minggu,” tegasnya.
Meski demikian, di tengah masa gencatan senjata, militer Israel sempat melancarkan gelombang serangan di Lebanon. Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut, termasuk seorang jurnalis.
Dilansir The Guardian, Kamis (23/4), serangan pada Rabu (22/4) menewaskan lima orang. Seorang jurnalis bernama Amal Khalil tewas saat meliput di dekat kota al-Tayri bersama fotografer Zeinab Faraj. Rudal menghantam kendaraan di depan mereka.
Keduanya sempat berlari menuju sebuah rumah terdekat, namun bangunan itu juga menjadi sasaran serangan, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi Zeinab Faraj yang mengalami luka di kepala, sementara Amal Khalil ditemukan tewas di bawah reruntuhan bangunan.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan saat petugas hendak mengevakuasi korban, militer Israel melepaskan granat suara dan tembakan ke arah ambulans. Tindakan tersebut disebut menghambat misi kemanusiaan.
Secara total, lima orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut meskipun gencatan senjata masih berlangsung.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengecam penargetan terhadap jurnalis dan penghambatan bantuan kemanusiaan sebagai “kejahatan perang”.(red


