By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Juang Sumatera Juang Sumatera Juang Sumatera
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Reading: Trump Buru Kapal Hantu Rusia Terkait Venezuela
Share
Font ResizerAa
Juang Sumatera Juang Sumatera
  • Advetorial
  • Bisnis
  • Budaya
  • Digital
  • Industri
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Listrik
Search
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
Nasional

Trump Buru Kapal Hantu Rusia Terkait Venezuela

By Redaksi Published 6 Januari 2026
Share
3 Min Read
Photo ilustrasi kapal tanker
SHARE

JAKARTA, Juangsumatera.com – Hubungan diplomatik antara Washington dan Kremlin kembali berada di titik nadir. Amerika Serikat (AS) kini tengah menyusun rencana matang untuk mencegat sebuah kapal tanker minyak yang sedang melarikan diri dan diklaim oleh Rusia berada di bawah yurisdiksinya.

Salah satu kapal tanker yang diintai awalnya bernama Bella 1. Kapal ini telah masuk dalam daftar sanksi AS sejak tahun 2024 karena dituduh beroperasi sebagai bagian dari armada bayangan yang mengangkut minyak ilegal.

Awalnya, Bella 1 berlayar menuju Venezuela. Namun, bulan lalu kapal ini terpantau berbalik arah demi menghindari upaya penyitaan oleh penjaga pantai AS.

Hingga dua hari yang lalu, kapal tanker tersebut terpantau berada di Atlantik Utara, bergerak ke arah timur laut di dekat pantai Inggris,” tulis laporan data kapal sumber terbuka dari Kpler, perusahaan intelijen perdagangan, sebagaimana dikutip dari CNN International, Selasa (6/1/2026) dan dilansir dari CNBC Indonesia.

Untuk menghindari kejaran, awak kapal melakukan aksi provokatif dengan mengecat bendera Rusia pada lambung kapal dan mengeklaim berlayar di bawah perlindungan Kremlin. Tak lama berselang, nama kapal tersebut berubah menjadi Marinera dalam daftar resmi kapal Rusia.

Rusia bahkan telah mengajukan permintaan diplomatik resmi agar AS menghentikan pengejaran tersebut. Status baru sebagai kapal Rusia ini secara hukum membuat proses penyitaan menjadi jauh lebih rumit dan sensitif secara geopolitik.

Persiapan AS untuk menyita kapal tersebut terlihat dari pergerakan masif aset militer di wilayah Inggris. Menurut data pelacakan penerbangan sumber terbuka, pesawat pengintai P-8 AS yang berbasis di RAF Mildenhall, Inggris, telah memantau posisi Marinera secara intensif.

Dalam 48 jam terakhir, setidaknya 12 pesawat angkut C-17 AS mendarat di pangkalan udara Fairford dan Lakenheath. Selain itu, aset tempur lainnya seperti dua unit AC-130 Gunship dan dua V-22 Osprey juga dilaporkan telah siaga di Inggris, didukung oleh pesawat tanker pengisian bahan bakar udara KC-135 di atas Atlantik Utara.

Penyitaan ini diprediksi tidak akan berjalan mudah. Sumber internal menyebutkan bahwa operasi di Atlantik Utara jauh lebih menantang dibandingkan operasi serupa di lepas pantai Venezuela pada Desember lalu karena faktor cuaca buruk dan keterlibatan Rusia.

“Menyita Bella 1 (Marinera) kemungkinan besar akan membutuhkan Tim Respons Khusus Maritim. Mereka adalah tim berpengalaman dalam menaiki kapal yang menolak menyerah untuk merebut kendali secara paksa,” ungkap seorang sumber.

Rencana pencegatan ini merupakan bagian dari instruksi Presiden Donald Trump yang bulan lalu mengumumkan “blokade total” terhadap tanker minyak yang mencoba masuk atau meninggalkan Venezuela, yang merupakan sekutu Moskow di Amerika Latin.

Meskipun AS telah berhasil menangkap Nicolas Maduro di Caracas pada Sabtu dini hari lalu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa blokade akan tetap diperketat. Langkah ini dilakukan sebagai daya tawar politik terhadap pemerintah sementara Venezuela.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih masih menolak memberikan komentar resmi terkait rencana operasi militer tersebut. (tps/luc/red)

Redaksi 6 Januari 2026 6 Januari 2026
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Berikan Ulasan Anda untuk Berita ini
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Previous Article Ratusan Gelondongan Kayu Banjir Sumatera Diangkut Kemenhut
Next Article Anak Tiri Dicabuli di Siak Hulu Dari Kelas 6 SD
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Nasional

200 Ribu Buruh ke Monas Besok, Polda Metro Siapkan Rekayasa Lalin

30 April 2026
Nasional

Purbaya Pastikan Tak Ada Pajak Baru

30 April 2026
Nasional

Prabowo: Indonesia Harus Jadi Raksasa yang Bangun Lewat Hilirisasi

30 April 2026
Nasional

Pentagon : Perang Lawan Iran Telan Biaya USD 25 Miliar

30 April 2026
Show More

JUANG SUMATERA

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan

Sekilas

Menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik.
Kategori Lainnya
  • Riau
  • Infrastruktur
  • Digital
  • Keuangan
 
  • Bisnis
  • Industri
  • Listrik
  • Pertambangan

Langganan Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form]
© juangsumatera.com - All Right Reserved
Welcome Back!

Masuk ke akun Anda

Lost your password?