Jakarta, Juangsumatera.com – Pakistan menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah perundingan guna mengakhiri konflik terkait Iran di tengah ketegangan yang terus meningkat. Islamabad membuka peluang pembicaraan langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam waktu dekat.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengatakan negaranya tengah mempersiapkan “pembicaraan bermakna” dalam beberapa hari mendatang. Hal itu disampaikan usai pertemuan para menteri luar negeri kawasan.
“Pakistan akan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan bermakna antara kedua pihak dalam beberapa hari mendatang, untuk penyelesaian komprehensif dan langgeng dari konflik yang sedang berlangsung,” kata Dar, seperti dilansir Reuters, Senin (30/3/2026) dikutip dari CNBC Indonesia.
Menurut Dar, diskusi tersebut mencakup kemungkinan mengakhiri perang secara cepat dan permanen, sekaligus membuka ruang dialog langsung antara Washington dan Teheran di Islamabad.
Namun hingga kini belum ada kepastian apakah AS dan Iran telah menyetujui rencana tersebut. Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait inisiatif Pakistan itu.
Upaya Islamabad diperkirakan menghadapi tantangan besar. Pasalnya, posisi keras masih dipegang oleh AS, Israel, dan Iran terkait syarat penghentian konflik.
Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menuding Washington mengirim pesan soal kemungkinan negosiasi sembari mempertimbangkan pengiriman pasukan.
“Selama Amerika mencari penyerahan Iran, respons kami adalah bahwa kami tidak akan pernah menerima penghinaan,” tegasnya dalam pesan kepada publik.
Sumber yang mengetahui pembicaraan menyebut diskusi awal antara Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Mesir juga menyoroti proposal pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu, Iran disebut melakukan blokade efektif terhadap pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz. Gangguan pasokan energi tersebut memicu tekanan ekonomi global dan mulai dirasakan di berbagai negara.(red)


