KAMPAR, Juangsumatera.com – Sudah hampir satu bulan antrian panjang mobil pribadi dan dump truk di seluruh SPBU di wilayah Kabupaten Kampar Provinsi Riau untuk mendapatkan minyak subsidi, terutama minyak Solar.
Antrian Puluhan mobil dan bahkan sampai Ratusan mobil di SPBU dan terkadang disejumlah SPBU antrian panjang mobil untuk mendapatkan minyak Solar membuat macet jalan Nasional.
Kelangkaan minyak Solar di wilayah Kabupaten Kampar diduga disebabkan karena terlalu banyak nya mobil pelangsir minyak Solar, baik mobil pribadi maupun mobil dump truk. Kondisi ini bukan menjadi rahasia lagi ditengah – tengah masyarakat.
Salah seorang warga Bangkinang Kota yang tidak mau disebut namanya kepada Juangsumatera.com, Sabtu (18/7/2026) mengatakan, mobil – mobil pelangsir minyak Solar sebagian mengarah ke gudang – gudang penampung minyak dan sebagian besar lansung ke usaha – usaha pertambangan batu dan pasir.
“Usaha pertambangan seperti, Stone Crusher dan usaha galian C, pada umum nya usaha pertambangan menggunakan alat berat. Minyak alat berat yakni minyak Solar. Pelaku – pelaku usaha pertambangan lebih memilih minyak Solar subsidi daripada minyak Solar Industri, karena harga minyak Solar subsidi perliter nya jauh lebih murah daripada minyak Solar Industri,” ungkap nya.
Penegakan hukum terhadap pelangsir minyak subsidi terutama minyak Solar masih minim di daerah Kampar, sehingga orang dengan leluasa melansir minyak Solar subsidi ke pelaku – pelaku usaha pertambangan dan termasuk ke perusahaan – perusahaan sawit.
Diterangkan nya lebih lanjut, memang kita akui juga masih ada pelaku usaha pertambangan dan perusahaan sawit memakai minyak Solar Industri.
Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh warga Tapung yang juga tidak mau disebut namanya mengatakan, kelangkaan minyak Solar di Kampar diduga banyak mengalir ke alat berat.
“Mereka melangsir minyak Solar subsidi menggunakan mobil dump truk dan mobil – mobil pribadi. Mobil – mobil dump’ truk yang antri di SPBU – SPBU bukan semuanya mobil dump’ truk untuk mengisi kebutuhan mobil nya tetapi mereka khusus untuk lansir minyak,” ungkapnya.
Selisih harga minyak Solar subsidi dengan minyak Solar Industri terlalu jauh, sehingga pelaku usaha lebih memilih minyak Solar subsidi dari pada minyak Solar Industri untuk kebutuhan alat berat mereka, terangnya. (tim)


