By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Juang Sumatera Juang Sumatera Juang Sumatera
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Reading: Putra Mahkota Raja Iran Tiba -Tiba Muncul
Share
Font ResizerAa
Juang Sumatera Juang Sumatera
  • Advetorial
  • Bisnis
  • Budaya
  • Digital
  • Industri
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Listrik
Search
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
Nasional

Putra Mahkota Raja Iran Tiba -Tiba Muncul

By Redaksi Published 12 Januari 2026
Share
4 Min Read
Reza Pahlavi
SHARE

JAKARTA, Juangsumatera.com – Di tengah meluasnya protes anti-pemerintah di Iran, Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, muncul ke publik. Meski telah hidup di pengasingan selama puluhan tahun, Pahlavi yang berusia 65 tahun, menyerukan perubahan besar dan menyatakan kesiapan memimpin transisi menuju Iran yang sekuler dan demokratis.

Perlu diketahui, Reza Pahlavi tinggal di Amerika Serikat (AS) sejak sebelum ayahnya, Mohammad Reza Shah Pahlavi, digulingkan. Melalui pesan-pesan video yang diunggah di platform X, ia memuji keberanian rakyat Iran yang turun ke jalan dan menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama yang telah berkuasa hampir setengah abad.

“Kita akan sepenuhnya membuat Republik Islam dan aparatus penindasannya yang usang dan rapuh bertekuk lutut,” ujar Pahlavi dalam salah satu pesan terbarunya, seperti dikutip Reuters, Senin (12/1/2026) dan dilansir dari CNBC Indonesia.

Namun, seberapa besar dukungan yang benar-benar ia miliki di dalam negeri masih sulit diukur. Pemerintah AS pun tidak memberikan dukungan resmi.

Tapi, sejumlah video terverifikasi di media sosial memperlihatkan demonstran meneriakkan slogan “Hidup Shah!”, menandakan adanya simpati terhadap sosok Pahlavi.Meski demikian, sebagian besar massa protes lebih menekankan tuntutan perubahan sistemik, dengan seruan seperti “Turunkan diktator!” yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Perlu diketahui, gelombang protes terbaru muncul dipicu kondisi ekonomi Iran yang kian memburu. Ini diperparah sanksi internasional bertahun-tahun serta dampak perang singkat selama 12 hari pada Juni lalu, ketika Israel dan kemudian Amerika melancarkan serangan udara ke Iran.

“Semua yang dipelajari Reza Pahlavi tentang memerintah negara berasal dari ayahnya yang gagal karena suatu alasan. Kita pernah memiliki Pahlavi, sekarang saatnya untuk negara yang demokratis,” kata seorang warga, Azadeh, 27 tahun.

Pahlavi sendiri bukan nama baru dalam setiap gejolak politik Iran. Ia kerap menyuarakan perubahan saat krisis, termasuk pada demonstrasi besar 2009 dan protes nasional 2022 menyusul kematian Mahsa Amini.

Namun, dalam gelombang-gelombang protes sebelumnya, dukungan terbuka terhadap restorasi monarki atau figur Pahlavi relatif terbatas. Berbeda dengan Revolusi 1979 yang dipersatukan oleh figur Ayatollah Ruhollah Khomeini, oposisi Iran saat ini terfragmentasi tanpa satu pemimpin tunggal.

“Hanya ada satu jalan untuk mencapai perdamaian: Iran yang sekuler dan demokratis. Saya di sini untuk menyerahkan diri kepada rekan-rekan sebangsa saya untuk memimpin mereka di jalan menuju transisi demokrasi,” kata Pahlavi dalam pidato yang diunggah
pada 23 Juni tahun lalu.

Lahir pada 1960 dan dinobatkan sebagai putra mahkota pada 1967, Pahlavi tumbuh dalam simbol kemewahan monarki Iran, gaya hidup yang kala itu turut memicu kemarahan publik di tengah inflasi tinggi dan kesenjangan sosial. Rezim ayahnya juga dikenal dengan represi keras melalui aparat keamanan SAVAK.

Di pengasingan, Pahlavi mendapat dukungan signifikan dari diaspora Iran, khususnya di AS. Ia juga sempat mengunjungi Israel pada 2023 dan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, serta secara terbuka mendukung serangan Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Iran, meski menegaskan perlunya dukungan lebih besar bagi rakyat Iran.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mendukung rakyat Iran jika aparat keamanan menembaki demonstran. Namun ia mengaku “tidak yakin apakah akan tepat” untuk bertemu dengan Reza Pahlavi. (sef/sef/red)

Redaksi 12 Januari 2026 12 Januari 2026
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Berikan Ulasan Anda untuk Berita ini
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Previous Article Nadiem Minta GoTo Buka Suara, Soal Penerimaan Rp 809 M
Next Article KPK Geledah Sejumlah Lokasi di Jakarta Utara
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Nasional

Kemendagri Ungkap Banyak Aduan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud

27 April 2026
Nasional

Prabowo Reshuffle Kabinet Merah Putih

27 April 2026
Nasional

HNW: PBB Jangan Hanya Mengutuk, Harus Sanksi Israel atas Serangan ke TNI

27 April 2026
Nasional

Hizbullah Bantah Tuduhan Netanyahu, Israel Langgar Gencatan Senjata

27 April 2026
Show More

JUANG SUMATERA

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan

Sekilas

Menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik.
Kategori Lainnya
  • Riau
  • Infrastruktur
  • Digital
  • Keuangan
 
  • Bisnis
  • Industri
  • Listrik
  • Pertambangan

Langganan Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form]
© juangsumatera.com - All Right Reserved
Welcome Back!

Masuk ke akun Anda

Lost your password?