Aceh Jaya – Salah satu penyumbang pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Teungku Nyak Sandang bin Lamudin, meninggal dunia di usia 100 tahun. Sosok asal Aceh Jaya itu dikenal karena keikhlasannya menyumbangkan harta demi perjuangan bangsa.
Dilansir dari detiksumut, Selasa (7/4/2026), Nyak Sandang pernah menyumbangkan satu petak sawah seharga Rp 100 pada tahun 1950 untuk membantu pembelian pesawat yang digunakan dalam perjuangan Indonesia. Saat itu, usianya baru 23 tahun.
Ajakan penggalangan dana bermula dari ceramah Gubernur Aceh sekaligus Gubernur Militer saat itu, Abu Daud Beureueh, di halaman masjid di Calang, Aceh Jaya. Dalam pidatonya, ia membakar semangat warga dengan menyampaikan pentingnya Indonesia memiliki pesawat untuk menjalin hubungan dengan negara lain pasca kemerdekaan.
Nyak Sandang yang hadir dalam ceramah tersebut tergerak untuk ikut berkontribusi. Ia bersama ayahnya menjual sepetak tanah. Tanah yang seharusnya laku Rp 200 itu dijual seharga Rp 100 agar uangnya bisa segera diserahkan untuk pembelian pesawat.
“Ini satu kebanggaan bagi saya bisa bantu negara. Saya ikhlas membantu, tidak mengharap apa-apa,” kata Nyak Sandang dalam wawancara pada 2018.
Sebagai bukti sumbangan, ia menerima obligasi. Saat itu, Abu Daud Beureueh juga sempat berjanji bahwa dalam 40 tahun masyarakat akan mendapat imbalan.
Tak hanya menyumbang harta, Nyak Sandang juga terlibat langsung dalam perjuangan melawan penjajah. Ia bertugas sebagai pasukan pengintai dan memantau pergerakan kapal Belanda. Jika kapal musuh terlihat, ia segera memberi kabar kepada pasukan yang bertahan di Puncak Gureutee, Aceh Jaya.
Kisahnya sempat viral pada 2018 dan membawanya bertemu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Dalam pertemuan di Istana, Nyak Sandang mengajukan tiga permintaan, yakni operasi katarak, pembangunan masjid di kampungnya, serta naik haji atau umrah. Permintaan tersebut dikabulkan.
Pada Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama kepada Nyak Sandang di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/8/2025). Penghargaan itu diberikan atas jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan kontribusinya terhadap kemandirian transportasi udara nasional.
Saat menerima penghargaan, Nyak Sandang hadir menggunakan kursi roda didampingi keluarga. Momen itu menjadi penghormatan negara atas ketulusan seorang warga yang rela mengorbankan hartanya demi Indonesia.(red)


