JAKARTA, Juangsumatera.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan kemungkinan mengambil tindakan militer di tengah berlangsungnya negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik. Netanyahu menegaskan Israel tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
“Hari ini kita mendengar komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ahmad Vahidi, menyatakan bahwa Iran bermaksud untuk terus mengembangkan senjata nuklir,” kata Netanyahu, dilansir dari Anadolu Agency dan dikutip dari detiknews, Kamis (6/8/2026).
Netanyahu menegaskan bahwa sebagai Perdana Menteri Israel, ia berkomitmen mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Ia juga menyebut Amerika Serikat sebagai sekutu terdekat Israel.
“Saya bertekad untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir,” tegasnya.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengungkapkan bahwa proses mediasi antara AS dan Iran telah memasuki tahap lanjutan. Menurutnya, kedua negara telah saling bertukar draf proposal sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan.
Dalam konferensi pers mingguan, Al-Ansari mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait guna mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Menurut otoritas Iran, serangan tersebut menewaskan lebih dari 3.000 orang. Teheran kemudian merespons dengan melancarkan serangan ke sejumlah negara di kawasan yang menjadi lokasi aset militer AS.
Pada Juni lalu, Qatar bergabung dengan Pakistan sebagai mediator dalam perundingan antara Washington dan Teheran. Upaya tersebut menghasilkan penandatanganan nota kesepahaman pada 18 Juni dan membuka jalan bagi negosiasi menuju kesepakatan akhir.
Namun, pembicaraan sempat terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai isu keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Ketegangan kembali meningkat pada periode 8–24 Juli ketika AS melancarkan serangan terhadap Iran. Sebagai balasan, Teheran mengklaim menargetkan fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.(Red)


