By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Juang Sumatera Juang Sumatera Juang Sumatera
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Reading: Kekayaannya Rp 867 Triliun, Konglomerat Meninggal Tanpa Ahli Waris
Share
Font ResizerAa
Juang Sumatera Juang Sumatera
  • Advetorial
  • Bisnis
  • Budaya
  • Digital
  • Industri
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Listrik
Search
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
Nasional

Kekayaannya Rp 867 Triliun, Konglomerat Meninggal Tanpa Ahli Waris

By Redaksi Published 26 September 2026
Share
3 Min Read
Michael Kühne
SHARE

JAKARTA, Juangsumatera.com – Konglomerat logistik asal Jerman Klaus-Michael Kühne meninggalkan kekayaan yang diperkirakan mencapai US$49 miliar atau sekitar Rp867 triliun. Ia meninggal dunia pada 24 Agustus 2026.

Harta tersebut menjadi perhatian, karena Kühne tidak memiliki anak yang dapat menjadi penerus langsung kekayaannya.
Kühne wafat pada usia 89 tahun di kediamannya di Schindellegi, Swiss.

Kekayaannya tidak hanya berasal dari bisnis logistik, tetapi juga dari kepemilikan dan investasi di sejumlah perusahaan besar yang bergerak di sektor transportasi, penerbangan hingga industri lainnya.

Karena tidak memiliki anak, pengelolaan kekayaan Kühne telah lama disiapkan untuk diteruskan melalui Kühne Foundation, yayasan yang didirikannya bersama orang tuanya pada 1976. Yayasan tersebut nantinya menjadi penerima aset yang ditinggalkan sang konglomerat.

Kühne Foundation sendiri mengonfirmasi bahwa pendirinya meninggal dunia setelah mengalami sakit berkepanjangan. Yayasan itu menyebut Kühne bukan hanya seorang pengusaha dan filantropis, tetapi juga sosok yang membentuk perkembangan organisasi tersebut selama lima dekade, dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (26/9/2026).

Berbeda dari warisan biasa yang diberikan kepada anggota keluarga, struktur kepemilikan Kühne telah disusun sedemikian rupa sehingga aset bisnisnya dapat terus berada di bawah kendali institusi yang memiliki tujuan filantropis.

Kühne Foundation menyatakan bahwa seluruh aset sang pendiri pada akhirnya akan dialihkan kepada yayasan. Dengan demikian, yang berpindah bukan sekadar uang tunai, melainkan kepemilikan atas kerajaan bisnis yang dibangun Kühne selama puluhan tahun.

Melalui Kühne Holding AG, portofolio tersebut mencakup kepemilikan besar di berbagai perusahaan, termasuk Kühne+Nagel, Hapag-Lloyd, Lufthansa, Brenntag, Flix dan Aenova, selain aset properti serta bisnis hotel. Kühne Holding sendiri mengonfirmasi bahwa portofolionya mencakup sejumlah perusahaan besar tersebut.

Dengan struktur tersebut, yayasan berpotensi menjadi salah satu organisasi filantropi dengan basis aset terbesar di Eropa.

Sebagian besar kekayaan Kühne berasal dari kepemilikannya di Kühne+Nagel, perusahaan logistik yang didirikan oleh kakeknya, August Kühne, bersama Friedrich Nagel.

Kühne bergabung dengan perusahaan keluarga pada 1958. Ia kemudian menjadi pemimpin perusahaan dan memainkan peran penting dalam ekspansi internasionalnya, menjadikan Kühne+Nagel salah satu perusahaan logistik terbesar dunia, terutama dalam pengiriman barang melalui udara dan laut.

Perusahaan tersebut kini mempekerjakan sekitar 88.000 orang dan memiliki lebih dari 1.300 lokasi di sekitar 100 negara.

Ia membangun portofolio investasi yang membuat namanya memiliki pengaruh besar di sektor transportasi Eropa. Salah satu investasi terpentingnya adalah Hapag-Lloyd, perusahaan pelayaran kontainer global. Ia juga menjadi pemegang saham besar Lufthansa, maskapai penerbangan nasional Jerman.

Selain itu, Kühne pernah memegang sekitar seperlima saham VTG, perusahaan penyewaan gerbong kereta terbesar di Eropa. Ia membeli saham tersebut dengan nilai sekitar €160 juta pada 2016 dan menjualnya dua tahun kemudian dengan harga sekitar €300 juta. (pgr/pgr/red)

Redaksi 26 September 2026 26 September 2026
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Berikan Ulasan Anda untuk Berita ini
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Previous Article Pelangsir Solar Subsidi Marak di Riau, Kelangkaan Minyak Semakin Parah
Next Article Filipina Beri Grasi ke Mary Jane Veloso, Indonesia Hormati Keputusan
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Nasional

Dukung Pendidikan Gratis, Hidayat Nur Wahid Singgung Keadilan

27 September 2026
Nasional

Masuk TN Komodo Tanpa Tiket Akan Kena Denda 5 Kali Lipat

26 September 2026
Nasional

Arab Saudi Serukan Tentara Siap Korbankan Nyawa Lawan Houthi

25 September 2026
Nasional

Hanya Hitungan Hari, Jabatan Komisaris Pelindo JM Silfester Matutina Dicopot

25 September 2026
Show More

JUANG SUMATERA

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan

Sekilas

Menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik.
Kategori Lainnya
  • Riau
  • Infrastruktur
  • Digital
  • Keuangan
 
  • Bisnis
  • Industri
  • Listrik
  • Pertambangan

Langganan Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form]
© juangsumatera.com - All Right Reserved
Welcome Back!

Masuk ke akun Anda

Lost your password?