JAKARTA, Juangsumatera.com – Pemerintah Iran mengancam akan menutup kembali Selat Hormuz, jika Amerika Serikat melanjutkan blokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Hal ini disampaikan pada hari Sabtu (18/4), beberapa jam setelah jalur air utama tersebut dibuka kembali menyusul kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.
Pembukaan kembali selat tersebut memicu optimisme dari Washington, dengan Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada kantor berita AFP, bahwa kesepakatan perdamaian sangat dekat.
Trump juga mengatakan Iran telah setuju untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya poin penting dalam negosiasi.
“Kita akan mendapatkannya dengan bekerja sama dengan Iran, dengan banyak ekskavator,” kata Trump kepada pertemuan gerakan konservatif Turning Point USA di Phoenix, Arizona.
Namun, Iran membantah klaim tersebut, mengatakan bahwa persediaan uranium yang diperkaya mereka tidak akan ke mana-mana.
Iran juga memperingatkan bahwa jika kapal perang AS mencegat kapal-kapal yang datang dari pelabuhan Iran, Selat Hormuz — jalur utama global yang biasanya dilalui seperlima minyak mentah dan gas alam cair global dapat ditutup kembali.
“Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka,” tulis Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf dalam unggahan di media sosial X, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (18/4/2026) dan dikutip dari detiknews.
Dia menambahkan bahwa perlintasan melalui perairan tersebut memerlukan izin dari Iran.
Pembukaan dan penutupan Selat Hormuz tidak terjadi di internet, tetapi ditentukan di lapangan, dan angkatan bersenjata kami tentu tahu bagaimana harus bertindak menanggapi tindakan apa pun dari pihak lain,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei.
“Apa yang mereka sebut blokade angkatan laut pasti akan dibalas dengan respons yang tepat dari Iran. Blokade angkatan laut adalah pelanggaran gencatan senjata dan Iran pasti akan mengambil tindakan yang diperlukan,” tegasnya. (ita/red)


