JAKARTA, Juangsumatera.com – Iran mengumumkan jalur pelayaran alternatif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran adanya ranjau laut di jalur utama perairan strategis tersebut.
Dilansir AFP dan dikutip dari detiknews, Kamis (9/4/2026), Teheran menyatakan Selat Hormuz kembali dibuka untuk sementara waktu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dua minggu dengan Amerika Serikat (AS). Meski dibuka, kapal-kapal diminta tidak melintasi rute utama demi alasan keselamatan.
Garda Revolusi Iran dalam pernyataan resminya menegaskan seluruh kapal yang hendak melintas wajib mengikuti rute alternatif yang telah ditentukan.
“Semua kapal yang bermaksud melintasi Selat Hormuz diberitahu bahwa untuk mematuhi prinsip keselamatan maritim dan terlindungi dari kemungkinan tabrakan dengan ranjau laut, mereka harus mengambil rute alternatif,” demikian bunyi pernyataan tersebut, seperti dikutip media lokal.
Iran juga menyertakan panduan teknis mengenai jalur masuk dan keluar alternatif yang bisa digunakan kapal-kapal internasional.
Pembukaan kembali Selat Hormuz ini menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Sebelumnya, ketegangan kedua negara meningkat tajam hingga memicu ancaman serangan militer.
Presiden AS Donald Trump lebih dulu mengumumkan adanya gencatan senjata melalui pernyataan di akun X Gedung Putih, Rabu (8/4). Trump menyebut penangguhan serangan terhadap Iran dilakukan dengan syarat Teheran membuka Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman.
“Dengan syarat Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman atas Selat Hormuz, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu. Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah!” kata Trump.
Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Iran menyatakan pihaknya memberi waktu dua minggu untuk proses negosiasi lanjutan dengan AS. Tenggat tersebut dapat diperpanjang apabila kedua pihak mencapai kesepakatan baru.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, sehingga setiap perkembangan di kawasan ini menjadi sorotan internasional.(red)


