JAKARTA, Juangsumatera.com – CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon memperingatkan ketidakpastian geopolitik, kondisi ekonomi yang rapuh, dan dampak revolusioner dari artificial intelligent (AI) atau kecerdasan buatan.
Dalam surat tahunan kepada pemegang saham yang dirilis Senin, Dimon menyebut peringatan 250 tahun Amerika Serikat sebagai momen yang tepat untuk kembali menegaskan nilai-nilai yang membentuk negara tersebut, seperti kebebasan dan kesempatan.
“Tantangan yang kita hadapi sangat besar. Daftarnya panjang, tetapi yang utama adalah perang dan kekerasan yang masih berlangsung di Ukraina, perang di Iran, ketegangan di Timur Tengah, aktivitas terorisme, serta meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama dengan China,” kata Dimon, dilansir dari CNBC, Sabtu (11/4/2026) dan dikutip dari detikfinance.
Dimon menyoroti berbagai tantangan, termasuk konflik global, inflasi yang masih tinggi, gejolak di pasar privat, serta regulasi perbankan yang dinilainya buruk.
Selain itu regulasi pascakrisis keuangan 2008 memang membawa beberapa manfaat, namun juga menciptakan sistem yang terfragmentasi, lambat, dan penuh aturan yang tumpang tindih.
Menurutnya, hal ini justru melemahkan sistem keuangan dan mengurangi penyaluran kredit produktif. Ia juga mengkritik persyaratan modal dan likuiditas, desain uji ketahanan Federal Reserve, serta proses di Federal Deposit Insurance Corp yang dinilainya tidak dikelola dengan baik.
Ketegangan Geopolitik
Dimon menyebut ketegangan geopolitik sebagai risiko utama bagi bisnisnya, terutama perang di Ukraina dan Iran yang berdampak pada komoditas dan pasar global.
“Hasil dari peristiwa geopolitik saat ini bisa jadi akan menjadi faktor penentu dalam arah tatanan ekonomi global ke depan. Tapi bisa juga tidak,” katanya lagi.
Ia juga menyinggung perubahan hubungan ekonomi global akibat kebijakan perdagangan AS di bawah Presiden Donald Trump, termasuk penggunaan tarif sebagai instrumen utama.
“Perang dagang jelas belum selesai, dan banyak negara kini sedang mempertimbangkan dengan siapa mereka akan menjalin kerja sama perdagangan,” kata Dimon.
“Sebagian memang diperlukan untuk keamanan nasional, tetapi dampak jangka panjangnya masih sulit diprediksi,” sambungnya
Mengenai kecerdasan buatan, Dimon menegaskan bahwa adopsi AI berlangsung lebih cepat dibanding teknologi sebelumnya.
“Secara keseluruhan, investasi di AI bukanlah gelembung spekulatif, melainkan akan memberikan manfaat besar. Namun, saat ini kita belum bisa memprediksi siapa yang akan menang dan kalah,” sebut Dimon.
JPMorgan akan terus mengadopsi AI untuk meningkatkan layanan bagi nasabah dan karyawan. “Kami tidak akan menutup mata. Kami akan menggunakan AI, seperti halnya teknologi lain, untuk bekerja lebih baik bagi pelanggan dan karyawan kami,” tulisnya.
Dimon juga mengingatkan, bahwa perubahan teknologi besar seperti AI akan membawa dampak lanjutan yang bisa memengaruhi masyarakat secara luas.
“Kami telah fokus pada hal-hal yang sudah diketahui dan yang belum pasti, tetapi perubahan teknologi besar seperti AI selalu memiliki dampak lanjutan yang bisa sangat mempengaruhi masyarakat. Kita juga harus memantau transformasi ini,” tutup Dimon. (ily/hns/red)


