BOLIVIA, Juangsumatera.com – Sejumlah menteri dalam pemerintahan Bolivia mengundurkan diri pada Selasa (2/6) waktu setempat, setelah aksi demo berlangsung selama berminggu-minggu untuk menuntut Presiden Rodrigo Paz mundur.
Laporan media-media lokal Bolivia, seperti dilansir AFP, Rabu (3/6/2026) dan dikutip dari detiknews menyebut, Menteri Pertahanan Marcelo Salinas dan Menteri Pendidikan Beatriz Garcia mengundurkan diri dari jabatan mereka pada hari yang sama.
Pengunduran diri Salinas dikonfirmasi oleh seorang pejabat Kementerian Pertahanan Bolivia. “Iya, informasi ini telah dikonfirmasi,” kata pejabat yang meminta agar identitasnya dirahasiakan tersebut.
Menurut laporan media lokal Bolivia, Salinas digantikan oleh Ernesto Justiniano, seorang menteri muda yang bertindak sebagai tsar anti-narkoba di negara tersebut. Sedangkan pengunduran diri Garcia telah dikonfirmasi oleh Kementerian Pendidikan secara terpisah.
Pengunduran diri menteri-menteri Bolivia ini merupakan eskalasi terbaru dalam krisis politik yang semakin dalam, yang melumpuhkan kota-kota besar dan mengancam pemerintahan Presiden Paz.
Para pekerja, petani dan guru menuntut langkah-langkah untuk meringankan krisis ekonomi terburuk di Bolivia dalam empat dekade terakhir.
Presiden Paz yang didukung oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, telah memperingatkan bahwa Bolivia berada di “titik kritis”. Namun, pemerintah Bolivia menolak untuk mengesampingkan kemungkinan mendeklarasikan keadaan darurat dan menggunakan militer untuk mengendalikan unjuk rasa.
Menurut data resmi pemerintah Bolivia, sekitar 100 aksi blokade jalan dilaporkan terjadi di berbagai wilayah negara tersebut dan hampir dua kali lipat jumlahnya dibandingkan dua pekan lalu.
Blokade jalan semacam itu telah memicu kekurangan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar di area La Paz, yang menjadi pusat pemerintahan, kemudian di El Alto yang berdekatan, dan di beberapa kota lainnya.
Imbas dari situasi tersebut, harga barang-barang kebutuhan pokok di Bolivia pun melonjak. Di sisi lain, pemerintah Bolivia menuduh para demonstran berupaya mengubah tatanan demokrasi dan menyatakan bahwa mantan Presiden Evo Morales yang memimpin unjuk rasa yang marak.
Morales, yang berkuasa tahun 2006 hingga tahun 2019, saat ini berada dalam persembunyian, ketika menghadapi tuduhan
Morales, yang berkuasa tahun 2006 hingga tahun 2019, saat ini berada dalam persembunyian, ketika menghadapi tuduhan perdagangan remaja perempuan yang diduga memiliki anak dengannya.
Saat berbicara kepada AFP baru-baru ini, Morales menyebut rakyat Bolivia marah karena Presiden Paz mengawasi “pemerintahan yang sepenuhnya tunduk” kepada AS. “Saya sangat yakin pemberontakan ini menentang model neo-liberal dan negara neo-kolonial,” sebutnya. (nvc/ita/red)


