JAKARTA, Juangsumatera.com — Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menunda pemungutan suara terkait rancangan resolusi dari Bahrain untuk mengamankan jalur di Selat Hormuz yang saat ini dikendalikan Iran.
Resolusi Bahrain–yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk–membuka peluang penggunaan kekuatan militer untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut laporan CNN yang mengutip Reuters , pemungutan suara semula dijadwalkan pada Jumat (3/4) lalu diundur ke Sabtu (4/4) siang waktu di New York, AS. Namun, menurut sejumlah diplomat, agenda tersebut kembali ditunda hingga pekan depan tanpa tanggal pasti.
Pihak Bahrain di PBB belum memberikan tanggapan terkait dengan alasan penundaan tersebut. Sejumlah negara seperti China dan Rusia dilaporkan menolak usulan tersebut karena dinilai berpotensi memperburuk situasi.
Utusan China untuk PBB, Fu Cong, menegaskan langkah tersebut akan melegitimasi penggunaan kekuatan yang melanggar hukum dan tidak pandang bulu.
“Secara tak terelakkan akan memicu eskalasi situasi lebih lanjut dan membawa konsekuensi serius,” kata Fu Cong dikutip dari CNN Indonesia.
Dalam draf yang beredar, resolusi tersebut mengizinkan negara anggota bertindak secara individu maupun melalui kerja sama maritim multinasional.
Operasi ini mencakup penggunaan kekuatan defensif di wilayah Selat Hormuz dan perairan sekitarnya, termasuk di perairan teritorial negara pesisir.
Mandat itu dirancang berlaku selama enam bulan sejak disahkan, dengan kewajiban pelaporan berkala ke Dewan Keamanan.
Meski demikian, resolusi menegaskan langkah ini hanya berlaku khusus untuk Selat Hormuz dan tidak dimaksudkan sebagai preseden hukum internasional.
Draf tersebut juga mengecam tindakan Iran yang dinilai melanggar hukum internasional serta mengancam stabilitas perdagangan dan keamanan energi global.
Rencana voting ini muncul di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menghantam wilayah dekat Teheran, menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai puluhan lainnya.
Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps mengklaim menyerang pusat komputasi awan Amazon di Bahrain. Serangan itu disebut sebagai respons atas aksi pembunuhan yang dituduhkan kepada pihak lawan.
Bahrain sendiri menjadi target karena menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat, menjadikannya bagian penting dari arsitektur keamanan Washington di kawasan Teluk. (red)


