By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Juang Sumatera Juang Sumatera Juang Sumatera
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Reading: Perjanjian Nuklir Rusia dan AS Resmi Bubar
Share
Font ResizerAa
Juang Sumatera Juang Sumatera
  • Advetorial
  • Bisnis
  • Budaya
  • Digital
  • Industri
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Listrik
Search
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
Nasional

Perjanjian Nuklir Rusia dan AS Resmi Bubar

By Redaksi Published 5 Februari 2026
Share
3 Min Read
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin
SHARE

JAKARTA, Juangsumatera.com – Pemerintah Rusia menyatakan kini mereka tidak lagi terikat oleh batasan jumlah hulu ledak nuklir yang bisa digunakan. Ini seiring berakhirnya perjanjian pengendalian senjata terakhir dengan Amerika Serikat (AS), New START.

New START resmi berakhir pada hari Kamis ini (5/2/2026), tanpa update dari Paman Sam. Hal tersebut berarti baik Moskow dan Washington bebas dari seluruh rangkaian pembatasan “arsenal” nuklir yang telah berlaku selama belasan tahun.

“Kami berasumsi bahwa para pihak dalam perjanjian New START tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam konteks perjanjian tersebut,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia, dimuat AFP dan dikutip dari CNBC Indonesia.

Meskipun menyatakan tidak lagi terikat aturan, Rusia menegaskan akan bertindak secara bertanggung jawab dan bijaksana. Namun, negeri itu memberi warning bahwa mereka siap mengambil tindakan balasan yang tegas jika keamanan nasional mereka terancam.

Sebenarnya, September tahun lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan akan tetap mematuhi batasan hulu ledak selama satu tahun. Tapi, klaimnya, hal ini tidak mendapat tanggapan formal dari Amerika.

Presiden AS Donald Trump pada saat itu sempat mengatakan bahwa tawaran tersebut terdengar seperti ide yang bagus, namun tidak ada negosiasi lanjutan yang terlaksana setelahnya. Seorang pembantu Kremlin menyatakan bahwa sebenarnya Moskow masih terbuka untuk melakukan dialog mengenai masalah ini.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan, bahwa Trump akan menangani isu ini di masa mendatang. Rubio menekankan posisi AS yang menginginkan keterlibatan China dalam kesepakatan pengendalian senjata global tersebut di masa depan.

“Presiden telah menyatakan dengan jelas di masa lalu bahwa untuk memiliki pengendalian senjata yang sejati di abad ke-21, tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak menyertakan China, karena stok mereka yang besar dan berkembang pesat,” ujar Rubio.

Secara historis, New START ditandatangani pada tahun 2010 oleh Dmitry Medvedev dan Barack Obama dengan batasan 1.550 hulu ledak strategis untuk masing-masing pihak. Joe Biden sempat memperpanjang perjanjian ini selama lima tahun pada 2021, sebelum hubungan kedua negara memburuk akibat konflik di Ukraina.

Rusia kemudian membekukan partisipasinya pada tahun 2023. Namun saat itu, Rusia menyatakan tetap secara sukarela akan mematuhi batasan hulu ledak.

Runtuhnya perjanjian ini memicu peringatan dari berbagai pihak internasional, termasuk Paus Leo XIV. Dalam audiensi mingguan, Paus mendesak agar kedua negara tidak meninggalkan instrumen ini tanpa memastikan adanya tindak lanjut yang konkret dan efektif.

“Saya mendesak Anda untuk tidak meninggalkan instrumen ini tanpa mencari jaminan bahwa itu ditindaklanjuti secara nyata dan efektif,” kata Paus.

Kekhawatiran terhadap percepatan perlombaan senjata disampaikan oleh Direktur Eksekutif Kampanye Internasional untuk Menghapuskan Senjata Nuklir (ICAN), Melissa Parke.

Menurutnya, hal ini akan menjadi masalah serius dengan adanya negara yang terus mengembangkan senjata berbahaya ini tanpa batasan.

“Tanpa New START, terdapat bahaya nyata berupa peningkatan jumlah hulu ledak, sistem pengiriman, dan latihan militer yang akan menekan negara nuklir lain untuk mengikuti langkah serupa,” tuturnya. (tps/sef/red)

Redaksi 5 Februari 2026 5 Februari 2026
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Berikan Ulasan Anda untuk Berita ini
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Previous Article Anggota DPR Sebut Penonaktifan BPJS PBI, Dampak Perubahan Ekonomi
Next Article 17 Orang Ditangkap Dalam OTT KPK di Bea Cukai
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Nasional

Andre Rosiade Bantu Pengobatan Lansia di Padang

20 April 2026
Nasional

Israel Perintahkan Serangan Penuh di Lebanon Meski Gencatan Senjata Berlaku

20 April 2026
Nasional

Malaysia Gabung Dalam Barisan Negara Pemburu Minyak Rusia

20 April 2026
Nasional

Uni Eropa Didesak Spanyol Untuk Akhiri Perjanjian Asosiasi dengan Israel

20 April 2026
Show More

JUANG SUMATERA

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan

Sekilas

Menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik.
Kategori Lainnya
  • Riau
  • Infrastruktur
  • Digital
  • Keuangan
 
  • Bisnis
  • Industri
  • Listrik
  • Pertambangan

Langganan Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form]
© juangsumatera.com - All Right Reserved
Welcome Back!

Masuk ke akun Anda

Lost your password?