PAINAN, Juangsumatera.com – Hiruk pikuk terkait rencana Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) Sumatera Barat (Sumbar) akan menjadikan Bukik Ameh di kawasan wisata Mandeh tempat objek wisata yang dibangun oleh pihak investor mendapat penolakan dari masyarakat.
Selama ini di kawasan Mandeh merupakan tempat wisata keluarga dan minim dari tempat maksiat. Wisata nya di kelola oleh Pemerintah dan masyarakat dan hasil nya juga dinikmati oleh Pemkab Pessel dari pendapatan parkir dan masyarakat juga menikmati, mulai dari pedagang kecil, rumah makan, homestay, usaha boat. tempat parkir dan usaha lain nya.
Salah seorang warga Nagari Ampang Pulai Kecamatan Koto XI Tarusan yang tidak mau disebut namanya kepada Juangsumateta.com, Senin (8/6/2026) dengan tegas menolak rencana Pemkab Pessel membangun tempat wisata di Bukik Ameh.
“Kita menolak rencana Pemkab Pessel membangun tempat wisata di Bukik Ameh dengan pihak investor. Kita bukan menolak pembangunan, tetapi sistim pembangunan nya yang kita tolak melalui investor,” tegas nya.
Diterangkan nya lebih lanjut, banyak mudarat nya kalau Bukik Ameh dibangun oleh investor untuk tempat wisata. Mudaratnya pertama, tempat maksiat, siapa yang menjamin kalau dibangun Bukik Ameh tempat wisata tidak tempat maksiat.
Mudarat yang kedua, yakni peredaran Narkoba di Bukik Ameh akan menjadi bebas beredar. Siapa yang akan mengawasi peredaran Narkoba di pulau tersebut nanti. Apalagi Bukik Ameh jauh dari pemukiman masyarakat.
Siapa di untungkan
Menurut nya, dibangun nya Bukik Ameh oleh Investor untuk tempat wisata yang untung pertama diduga orang yang memberikan izin.
Sebagian masyarakat yang mempunyai tanah di Bukik Ameh juga mendapat untung karena adanya sewa tanah oleh pihak investor, terangnya.
Siapa yang dirugikan
Pertama yang rugi adalah masyarakat yang berada dikawasan wisata Mandeh, karena akan berdampak langsung tempat maksiat. Anak dan kamanakan akan berdampak langsung dengan tempat maksiat, terang nya.
Masyarakat Pessel juga dirugikan nanti, karena Kabupaten Pessel terkenal dengan tempat maksiatnya yang berada di Bukik Ameh, katanya.
Salah seorang perantau dari Ampang Pulai yang tinggal di Riau, Edi mengatakan, rencana Pemkab Pessel akan membangun Bukik Ameh untuk tempat wisata cukup bagus. Tetapi pembangunan nya jangan melalui investor.
“Silahkan bangun Bukik Ameh untuk tempat wisata dan apalagi pulau Bukik Ameh berada dikawasan wisata Mandeh dan akan menambah daya tarik wisatawan untuk pergi ke kawasan Mandeh,” seru Edi.
Menurut Edi, lebih bagus Bukik Ameh dibangun melalui dana APBD dan APBN. Pemkab Pessel hanya melanjutkan program yang sudah ada sebelum nya.
Kita heran juga melihat rencana Pemkab Pessel sekarang ini, terlalu berambisi membangun tempat wisata dengan pihak investor. Kita boleh membangun tapi pikirkan juga dampak negatif nya yang ditimbulkan oleh pembangunan tersebut, tegas Edi.
Untuk diketahui, kawasan Bukik Ameh terletak di 2 Nagari, sebagian kecil wilayahnya berada di Nagari Ampang Pulai dan sebagian besar wilayah nya berada di Nagari Cerocok Anau Ampang Pulai Kecamatan Koto XI Tarusan. (tim)


