JAKARTA, Juangsumatera.com – Garda Revolusi Iran mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang dihadapkan pada pilihan yang sulit. Pilihan tersebut yakni operasi militer yang “mustahil” atau “kesepakatan buruk” dengan Teheran.
Dilansir AFP, Minggu (3/5/2026).dan dikutip dari detiknews, negosiasi antara kedua negara telah menemui jalan buntu sejak gencatan senjata diberlakukan pada 8 April 2026 lalu. Hanya ada satu putaran pembicaraan perdamaian langsung yang diadakan sejauh ini.
Kantor berita Iran, Tasnim dan Fars, melaporkan bahwa Teheran telah mengajukan proposal 14 poin kepada mediator Pakistan, tetapi Trump dengan cepat meragukannya.
“Saya akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada kami, tetapi saya tidak dapat membayangkan bahwa itu akan dapat diterima karena mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan kepada umat manusia, dan dunia, selama 47 tahun terakhir,” kata Trump di platform Truth Social miliknya.
Situs berita AS Axios melaporkan, mengutip dua sumber yang diberi informasi tentang proposal tersebut, bahwa proposal itu menetapkan “batas waktu satu bulan untuk negosiasi kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, mengakhiri blokade angkatan laut AS, dan mengakhiri perang di Iran dan Lebanon secara permanen”.
Dalam sebuah pernyataan, Garda Revolusi Iran mempersilakan Trump untuk memilih. “Operasi yang mustahil atau kesepakatan buruk dengan Republik Islam Iran,” tutur mereka.
Garda Revolusi Iran menegaskan waktu kian menipis. “Ruang untuk pengambilan keputusan AS telah menyempit,” imbuh mereka.
Sehari sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi mengatakan kepada para diplomat di Teheran bahwa bola berada di tangan Amerika Serikat untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif.
Iran, katanya, “siap untuk kedua jalur tersebut”. (maa/red)


