JAKARTA, Juangsumatera.com – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyatakan negaranya tengah memperkuat Angkatan Laut dengan persenjataan nuklir. Selain itu, Korea Utara juga berencana membangun kapal perang strategis berbobot 10.000 ton.
Dilansir AFP dan dikutip dari detiknews, Rabu (24/6/2026), pernyataan itu disampaikan Kim saat peresmian kapal perang Choe Hyon di kota pelabuhan Nampo, Selasa (23/6). Kapal tersebut merupakan salah satu dari dua kapal perang kelas 5.000 ton yang diluncurkan Korea Utara tahun lalu.
“Program melengkapi Angkatan Laut dengan senjata nuklir berjalan sesuai rencana tanpa kesalahan,” kata Kim, seperti dikutip Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).
Kim menyebut langkah tersebut penting untuk memastikan kekuatan nuklir negaranya siap digunakan dalam berbagai operasi.
Sebelumnya, Korea Utara mengklaim Choe Hyon dilengkapi “senjata paling ampuh” dan telah menjalani sejumlah uji coba, termasuk peluncuran rudal jelajah pada April lalu.
Dalam pidatonya, Kim mengatakan setelah Choe Hyon dan kapal perusak Kang Kon dioperasikan, Korea Utara akan mulai meluncurkan kapal perang strategis berbobot 10.000 ton secara bertahap.
Ia juga menargetkan pembangunan dua kapal permukaan setiap tahun dengan kelas yang lebih tinggi dari Choe Hyon, termasuk kapal penjelajah 10.000 ton.
Pada pleno Partai Pekerja Korea yang berakhir Senin (22/6), Kim kembali menegaskan komitmennya meningkatkan kemampuan pertahanan negara.
Menurutnya, modernisasi militer yang dilakukan Korea Selatan dan Amerika Serikat telah mendorong kawasan menuju “ambang perang nuklir”.
Korea Utara telah berulang kali menyatakan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir yang “tak dapat diubah” sejak perundingan antara Kim dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Hanoi pada 2019 gagal mencapai kesepakatan terkait denuklirisasi dan pencabutan sanksi.
Hingga kini, Korea Utara masih berada di bawah berbagai sanksi internasional terkait program nuklirnya. Secara teknis, Korea Utara dan Korea Selatan juga masih berada dalam status perang karena konflik 1950-1953 hanya berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.


