JAKARTA, Juangsumatera.com – Kementerian Sosial RI (Kemensos) melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial meluncurkan program pemberdayaan bagi 150 petani kakao di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Para penerima manfaat merupakan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) dan program sembako.
Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib, menjelaskan bahwa program ini berfokus pada optimalisasi budidaya dan hilirisasi komoditas kakao organik.
Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup dan kemandirian ekonomi warga, sehingga mereka bisa mandiri dan lulus (graduasi) dari kepesertaan bantuan sosial (bansos).
”Semangat pemberdayaan adalah menjangkau masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh pembangunan,” ujar Zubaedi dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026) dikutip dari detiknews.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara Kerja Sama Pemberdayaan Sosial Menuju Kemandirian Ekonomi Petani Kakao Organik di Kecamatan Nangapanda, Ende, baru-baru ini.
Dalam program ini, Kemensos menyalurkan bantuan stimulus senilai Rp 826 juta. Bantuan tersebut meliputi bibit unggul, sarana produksi organik, alat dan mesin pertanian, hingga fasilitas pascapanen. Manfaat ini menyasar 150 KPM petani kakao di Kecamatan Ende dan Nangapanda yang tergabung dalam Koperasi Produsen Agro Niaga Asosiasi Petani Kakao Nangapanda (KOPAN-SIKAP).
Kabupaten Ende sebenarnya memiliki potensi perkebunan kakao yang besar, mencapai 7.498 hektare. Namun, para petani masih menghadapi tantangan di sektor hulu, rantai niaga, penurunan hasil panen, hingga serangan hama yang membatasi pendapatan mereka.
Guna mengatasi kendala pasar, Kemensos menggandeng PT Mega Inovasi Organik (MIO), sebuah industri pengelolaan kakao organik global. PT MIO akan bertindak sebagai penjamin pasar (off-taker) yang siap membeli produk kakao bersertifikasi internasional dengan harga premium.
Kolaborasi ini diresmikan melalui penandatanganan kerja sama oleh Direktur Pemberdayaan Sosial Masyarakat Kemensos Adrianus Alla dan Direktur PT MIO Dippos Naloanro Simanjuntak.
”Harapannya, lahir generasi petani kakao organik Ende yang mampu menembus pasar ekspor melalui kerja sama dengan PT MIO,” tambah Zubaedi.
Salah satu penerima manfaat, Imelda Yunimani, menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia berkomitmen untuk merawat dan memaksimalkan bantuan yang diterima. “Kami akan menggunakan dan menjaga alat-alat tersebut semaksimal mungkin,” kata Imelda.
Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda, turut menyambut positif inisiatif ini. Ia mengajak para petani memanfaatkan bantuan tersebut demi memperkuat perekonomian keluarga.
”Bantuan yang diberikan bukan sekadar dukungan ekonomi, tetapi juga membuka jalan bagi masyarakat untuk bangkit dan mandiri,” pungkas Yosef.(Red)


