By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Juang Sumatera Juang Sumatera Juang Sumatera
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Reading: Respon Hasan Nasbi Terkait Plesetan SPPG Jadi Satuan Penjilat Prabowo-Gibran
Share
Font ResizerAa
Juang Sumatera Juang Sumatera
  • Advetorial
  • Bisnis
  • Budaya
  • Digital
  • Industri
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Listrik
Search
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
Nasional

Respon Hasan Nasbi Terkait Plesetan SPPG Jadi Satuan Penjilat Prabowo-Gibran

By Redaksi Published 1 Juni 2026
Share
3 Min Read
Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi
SHARE

JAKARTA, Juangsunatera.com — Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi mengkritik pihak-pihak yang memplesetkan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) menjadi ‘Satuan Penjilat Prabowo-Gibran. Menurutnya, pelabelan tersebut menunjukkan cara berpikir yang tidak didasarkan pada fakta.

Hasan mengatakan ruang digital saat ini kerap dipenuhi sikap sinis yang berkembang lebih cepat dibanding upaya memeriksa kebenaran informasi. Akibatnya, nalar publik justru menjadi korban.

Ada orang yang bilang SPPG itu adalah satuan penjilat Prabowo-Gibran. Nah, ini kan sok paten juga, nalarnya di diskon juga ini,” kata Hasan dalam unggahan video di Instagramnya, Senin (1/6/2026) dikutip dari CNN Indonesia.

Ia menegaskan SPPG merupakan bagian dari ekosistem program pemenuhan gizi yang ditujukan bagi puluhan juta masyarakat Indonesia. Program tersebut menyasar sekitar 62 juta penerima manfaat yang terdiri dari anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di berbagai daerah.

Selain itu, Hasan menyebut program tersebut juga memberikan dampak ekonomi karena menyerap sekitar 1,5 juta orang yang bekerja di dapur pelayanan gizi. Oleh sebab itu, ia menganggap tudingan yang menyebut SPPG sebagai alat politik secara tidak langsung juga merendahkan jutaan pekerja yang terlibat dalam program tersebut.

“Kalau dia bilang SPPG itu satuan penjilat Prabowo-Gibran, berarti dia sedang mengata-ngatai 1,5 juta warga Indonesia yang bekerja di dapur SPPG sebagai penjilat Prabowo-Gibran. Dia juga sama sedang mengata-ngatai 62 juta penerima manfaat anak sekolah, ibu hamil, dan menyusui anak-anak balita. 62 juta penerima manfaat ini sebagai penjilat Prabowo-Gibran. Hati-hati kalau bicara,” ujarnya.

Hasan menilai tuduhan yang dilontarkan tanpa didukung data dan fakta tidak hanya berpotensi merusak reputasi program pemerintah, tetapi juga mengabaikan kontribusi para pekerja serta hak masyarakat yang menerima manfaat program tersebut.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi yang beredar di ruang publik maupun media sosial. “Jangan sampai fakta di diskon, kebenaran di diskon, dan nalar di diskon,” imbuhnya.

Ia mengibaratkan informasi seperti makanan yang perlu dikunyah terlebih dahulu sebelum ditelan. Masyarakat perlu memeriksa fakta dan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

“Itu sama dengan informasi. Kalau ada informasi, resapi dulu. Cari dulu apa sih malasnya sekarang mencari informasi yang benar. Lihat dulu faktanya ini benar fakta yang sudah terjadi bertahun-tahun apa nggak. Cari dulu kebenarannya ini benar apa nggak. Jangan sampai nalar Anda kemudian dipotong-potong. Jangan sampai nalar Anda didiskon-diskon,” jelasnya.

“Cukuplah tas yang didiskon. Cukuplah harga barang yang didiskon. Tapi nalar dan pikiran jangan sampai didiskon,” tambahnya.

Ia menegaskan kebiasaan merespons sesuatu dengan kemarahan dan kebencian berisiko memperburuk kualitas diskusi publik. Hasan menilai Indonesia hanya bisa dibangun melalui persatuan dan kesatuan, bukan melalui sentimen negatif yang terus dipelihara.

“Karena negara kita tidak dibangun dengan kemarahan. Negara kita tidak dibangun dengan kebencian. Justru negara kita hanya bisa dibangun dengan persatuan dan kesatuan,” pungkasnya. (ldy/pta/red)

Redaksi 1 Juni 2026 1 Juni 2026
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Berikan Ulasan Anda untuk Berita ini
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Previous Article KPK Periksa 20 Forwarder Terkait Kasus Importasi Ditjen Bea Cukai
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Nasional

Tunggu Restu Prabowo Untuk Realisasikan MBG di Jeddah

1 Juni 2026
Nasional

Wakil PM Qatar Temui Prabowo di Istana

1 Juni 2026
Nasional

Prabowo Melayat Mendiang Ryamizard Ryacudu

1 Juni 2026
Nasional

Indomaret Dikabarkan Tutup 2 Hari

1 Juni 2026
Show More

JUANG SUMATERA

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan

Sekilas

Menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik.
Kategori Lainnya
  • Riau
  • Infrastruktur
  • Digital
  • Keuangan
 
  • Bisnis
  • Industri
  • Listrik
  • Pertambangan

Langganan Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form]
© juangsumatera.com - All Right Reserved
Welcome Back!

Masuk ke akun Anda

Lost your password?