BEIJING, Juangsumatera.com – Ketegangan antara China dan Taiwan kembali memanas setelah kapal penjaga pantai kedua pihak terlibat saling hadang di sekitar Kepulauan Pratas, wilayah strategis di bagian utara Laut China Selatan.
Otoritas Penjaga Pantai Taiwan pada Minggu (24/5/2026) mengatakan, konfrontasi tersebut telah berlangsung selama dua hari.
Taiwan menyebut kapal penjaga pantai China mendekati Kepulauan Pratas pada Sabtu (23/5/2026). Menanggapi hal itu, Taiwan segera mengirim kapal penjaga pantainya sendiri dan memperingatkan kapal China melalui komunikasi radio.
Dalam percakapan radio tersebut, kedua pihak terlibat konfrontasi verbal mengenai klaim kedaulatan atas wilayah itu.
Menurut Penjaga Pantai Taiwan, kapal China menyiarkan bahwa mereka sedang menjalankan misi rutin dan bahwa Beijing memiliki kedaulatan serta yurisdiksi atas Kepulauan Pratas.
Kapal Taiwan kemudian membalas pesan tersebut dengan mengatakan, “Mohon jangan merusak perdamaian. Anda seharusnya kembali dan berjuang untuk demokrasi. Itulah cara yang benar untuk mengabdi kepada negara Anda.” dikutip dari KOMPAS.com.
Kantor Urusan Taiwan China belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait insiden tersebut.
Seorang pejabat Penjaga Pantai Taiwan kepada Reuters mengatakan bahwa kapal China berada sekitar 21 mil laut di timur laut Kepulauan Pratas dan situasi saling hadang masih berlangsung hingga Minggu sore.
Pejabat itu menyebut penggunaan istilah yurisdiksi dan kedaulatan oleh China tergolong tidak biasa. Selain itu, lamanya kapal China berada di dekat perairan Pratas juga dinilai berbeda dibanding biasanya.
Kepulauan Pratas berada di antara Taiwan bagian selatan dan Hong Kong. Wilayah yang dikuasai Taiwan itu dinilai sejumlah pakar keamanan rentan terhadap serangan China karena jaraknya lebih dari 400 kilometer dari pulau utama Taiwan.
Pratas sendiri merupakan atol yang juga berstatus taman nasional Taiwan. Wilayah itu hanya memiliki pertahanan ringan dan pengamanannya lebih banyak menjadi tanggung jawab penjaga pantai dibanding militer.
China menganggap Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai bagian dari wilayahnya, namun klaim tersebut ditolak pemerintah di Taipei.
Dalam lima tahun terakhir, Beijing terus meningkatkan tekanan terhadap Taiwan dengan memperbesar kehadiran militernya di sekitar pulau tersebut.
Pada Januari lalu, Taiwan juga mengatakan, sebuah drone pengintai China sempat terbang melintasi Kepulauan Pratas.
Kementerian Pertahanan Taiwan kala itu menyebut tindakan tersebut sebagai langkah provokatif dan tidak bertanggung jawab. (red)


