TEHERAN, Juangsumatera.com – Iran menyatakan sedang menyelesaikan kerangka kerja 14 poin untuk kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Meski banyak mencapai kesamaan pandangan, Iran memperingatkan masih ada perbedaan yang perlu diselesaikan.
“Niat kami pertama-tama adalah untuk menyusun nota kesepahaman, semacam perjanjian kerangka kerja yang terdiri dari 14 pasal,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei, dikutip dari AFP, Sabtu (23/5/2026) dan dilansir dari KOMPAS.com.
Dia menunjuk pada apa yang digambarkannya sebagai tren menuju pendekatan lebih baik dengan Washington.
Akan tetapi, hal itu tidak serta merta berarti membuat Iran akan mencapai kesepakatan mengenai isu-isu penting dengan AS.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah kunjungan kepala militer Pakistan, Asim Munir ke Iran yang telah bertindak sebagai mediator antara Teheran dan Washington dalam upaya mengakhiri perang.
Menurutnya, pengaturan terkait Selat Hormuz yang strategis merupakan bagian dari rancangan kerangka kerja, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran global yang vital, telah berada di bawah kendali Iran sejak pecahnya perang. Iran bersikeras agar kapal-kapal memperoleh izin dari angkatan bersenjatanya sebelum melintasi jalur air tersebut.
“Selat Hormuz tidak ada hubungannya dengan AS. Mekanisme untuk selat tersebut harus ditetapkan antara Iran dan Oman sebagai negara pesisir,” ujarnya.
Dia menuturkan, kerangka kerja tersebut tidak mencakup rincian tentang program nuklir Iran, poin yang selama ini menjadi kendala bagi Washington. Menurutnya, masalah tersebut akan “menjadi subjek diskusi terpisah pada tahap selanjutnya.
Baqaei menambahkan, tuntutan Iran yang sudah lama untuk pencabutan sanksi telah dimasukkan dalam teks kerangka kerja. Namun, hal tersebut juga belum dibahas secara rinci karena masalah nuklir saat ini tidak sedang dibahas secara mendetail.
“Ini juga merupakan salah satu poin yang perlu kita teliti secara detail dalam waktu dekat,” katanya. (red)


