JAKARTA, Juangsumatera.com – Teka-teki penyebab keracunan massal yang menimpa sekitar 500 siswa dan guru di Kecamatan Tulung, Klaten, akhirnya terungkap.
Berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Besar Labkesmas, sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinyatakan positif mengandung bakteri Bacillus Sp.
Kepala Dinas Kesehatan Klaten, Anggit Budiarto, mengonfirmasi bahwa bakteri tersebut ditemukan pada sejumlah komponen menu, mulai dari telur puyuh, galantin, hingga kuah timlo.
”Bacillus Sp inilah yang memicu gejala mual, pusing, muntah, hingga diare pada para korban,” ujar Anggit, Selasa (5/5/2026) dikutip dari detikJateng.
Anggit menjelaskan terdapat perbedaan karakteristik antara Bacillus Sp dan E. coli. Jika E. coli umumnya bersumber dari air dan mati jika dimasak dengan benar, Bacillus Sp memiliki ketahanan lebih tinggi karena mampu membentuk spora di udara.
Kontaminasi diduga kuat terjadi saat proses pengepakan makanan yang kurang higienis. “Ketika bakteri ini mencemari makanan, ia bisa meninggalkan spora. Spora inilah yang kemudian memicu keracunan,” tambahnya.
Meski sempat merawat inap sembilan pasien, pihak Puskesmas Majegan memastikan seluruh korban kini telah pulih. Kepala Puskesmas Majegan, Efy Kusumawati, menyatakan pasien terakhir sudah diperbolehkan pulang sejak Sabtu pekan lalu.
”Alhamdulillah, kondisi semua sudah baik dan tidak ada lagi yang menjalani perawatan,” kata Efy.
Peristiwa ini bermula pada Selasa (28/4), saat para siswa SMPN 1 Tulung dan beberapa sekolah dasar menyantap menu sop galantin dalam program MBG. Beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tersebut, tepatnya mulai Selasa malam hingga Rabu pagi, ratusan siswa mulai mengeluhkan sakit perut dan pusing.
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, yang turun langsung ke lapangan sempat memantau peningkatan jumlah korban di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk RS PKU Muhammadiyah Jatinom. Pemerintah daerah kini menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi ketat dalam pelaksanaan program makan gratis ke depannya.(red)


