JAKARTA, Juangsumatera.com – Presiden Rusia Vladimir Putin menggelar pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di St. Petersburg, Rusia. Dalam pertemuan tersebut, Putin menyampaikan harapannya agar rakyat Iran mampu melewati apa yang ia sebut sebagai “masa sulit” serta berharap perdamaian segera terwujud.
Rusia menawarkan diri sebagai mediator untuk membantu meredakan ketegangan di Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Moskow juga mengecam keras serangan tersebut.
Selain itu, Rusia kembali menawarkan untuk menyimpan uranium yang diperkaya milik Iran sebagai langkah meredakan ketegangan. Namun, tawaran tersebut belum mendapat persetujuan dari Amerika Serikat.
“Dari pihak kami, kami akan melakukan segala sesuatu yang melayani kepentingan Anda dan kepentingan semua rakyat di kawasan ini untuk memastikan bahwa perdamaian terwujud secepat mungkin,” kata Putin kepada Araghchi dalam pertemuan pada Senin (27/4) waktu setempat, menurut laporan media pemerintah Rusia, RIA, yang dilansir Reuters dan Al Arabiya English, Selasa (28/4/2026) dikutip dari detiknews.
“Minggu lalu saya menerima pesan dari pemimpin tertinggi Iran. Saya ingin meminta Anda untuk menyampaikan ucapan terima kasih saya yang paling tulus untuk ini dan untuk menegaskan bahwa Rusia, seperti Iran, bermaksud untuk melanjutkan hubungan strategis kami,” tambahnya.
Tahun lalu, Iran menandatangani perjanjian kemitraan strategis selama 20 tahun dengan Moskow. Saat ini, Rusia tengah membangun dua unit nuklir baru di Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran. Di sisi lain, Iran diketahui memasok drone Shahed kepada Rusia untuk digunakan dalam konflik melawan Ukraina.
RIA melaporkan, Araghchi menyatakan hubungan Rusia dan Iran akan terus menguat. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Putin atas dukungan Moskow.(red)


