JAKARTA, Juangsumatera.com — Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung meminta warga mempersingkat waktu mandi dan durasi mengisi daya ponsel untuk menghemat energi.
Dalam rapat kabinet pada Selasa (24/3/2026), Lee meluncurkan 12 pedoman penghematan energi bagi warga untuk mengantisipasi krisis energi buntut perang Amerika Serikat-Israel vs Iran.
Pedoman tersebut di antaranya yakni beralih ke transportasi umum, mengisi daya kendaraan listrik dan ponsel pada siang hari, mempersingkat waktu mandi, serta memakai mesin cuci dan penyedot debu hanya di akhir pekan, demikian dikutip Reuters dan dilansir dari CNN Indonesia.
Dilansir dari Chosun, Lee juga menyampaikan langkah penghematan energi ini akan berlaku pada lembaga-lembaga publik. Ia meminta lembaga negara Korsel mulai menerapkan sistem lima hari penggunaan mobil sebagai contoh bagi masyarakat.
Dilansir dari Chosun, Lee juga menyampaikan langkah penghematan energi ini akan berlaku pada lembaga-lembaga publik. Ia meminta lembaga negara Korsel mulai menerapkan sistem lima hari penggunaan mobil sebagai contoh bagi masyarakat.
“Lembaga-lembaga publik harus memberi contoh melalui langkah-langkah seperti sistem lima hari menggunakan mobil. Saya dengan hormat meminta seluruh warga untuk ikut dalam kampanye penghematan energi dengan menggunakan transportasi umum dan menghemat energi dalam kehidupan sehari-hari,” kata Lee.
Pemerintah merinci penerapan sistem lima hari ini dimulai pada 25 Maret pukul 00.00 waktu setempat. Sistem ini akan membatasi mobil penumpang untuk beroperasi pada hari kerja yang ditentukan berdasarkan angka terakhir plat nomornya.
Mobil akan dibagi menjadi lima kelompok sesuai angka terakhir plat. Misalnya, kendaraan dengan nomor plat berakhiran 1 atau 6 dilarang beroperasi di jalan pada Senin, sedangkan yang berakhiran
Sementara itu, mobil hibrida dan mobil berukuran kecil, yang telah lama dikecualikan dari skema ini, akan termasuk dalam sistem ini.
Menteri Energi Korsel Kim Sung Whan mengatakan pembatasan kendaraan untuk sektor swasta saat ini bersifat sukarela. Namun, keputusan ini bisa ditinjau kembali jika tingkat kewaspadaan energi meningkat.
“Kami akan secara aktif mempertimbangkan langkah-langkah pengurangan permintaan tambahan, seperti kerja jarak jauh,” ujarnya, seperti dikutip Korea JoongAng Daily.
Perang AS-Israel vs Iran yang pecah sejak 28 Februari telah mengakibatkan krisis energi global. Selat Hormuz ditutup Iran buntut perang, serta infrastruktur energi menjadi korban serangan. (red)


