JAKARTA, Juangsumatera.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memastikan telah mengajukan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) sebesar Rp 181 triliun kepada DPR.
Ia menegaskan, pengajuan tersebut tidak diperuntukkan bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami sudah paparan di DPR soal ABT ini. Kami dalam posisi menunggu keputusan,” ujar Mu’ti usai rapat koordinasi penyelenggaraan MBG di kantor Pemprov Jawa Tengah, Semarang, Selasa (3/3/2026) kemarin. Dikutip dari detiknews.
Mu’ti menjelaskan, salah satu program utama dalam usulan tambahan anggaran itu adalah revitalisasi satuan pendidikan. Menurut dia, masih banyak sekolah dalam kondisi rusak dan memprihatinkan.
“Kami mengajukan tambahan anggaran untuk revitalisasi 20 ribu satuan pendidikan,” kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah tersebut.
Ia juga mengusulkan anggaran untuk program digitalisasi pendidikan. Mengacu pada arahan Presiden Prabowo Subianto, setiap satuan pendidikan akan mendapatkan tambahan Interaktif Flat Panel (IFP) atau Panel Interaktif Digital (PID).
Pada tahun 2026, Kemendikdasmen menargetkan distribusi IFP lebih dari 325.000 satuan pendidikan. “Untuk digitalisasi kita akan bagikan tiga IFP per satuan pendidikan,” ujar Mu’ti.
Program lain yang telah disetujui DPR adalah pemberian beasiswa bagi guru yang belum meraih jenjang Diploma 4 (D4) atau Strata 1 (S1). Sebanyak 150.000 guru di seluruh Indonesia akan menerima beasiswa sebesar Rp 3 juta per semester. “Beasiswa ini akan diberikan untuk 150 ribu orang guru se-Indonesia,” kata dia.
Kemendikdasmen juga mengusulkan kenaikan insentif bagi guru honorer dalam ABT tersebut. Insentif yang sebelumnya Rp 300.000 per bulan diusulkan naik menjadi Rp 400.000 per bulan.
“Insentif untuk guru honorer akan dinaikkan, dari Rp 300 ribu menjadi Rp 400 ribu,” ujar Mu’ti.
Meski tidak dibiayai dari ABT, Mu’ti menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap menjadi bagian integral dari kebijakan kementeriannya. Program itu disebut sejalan dengan “7 Kebiasaan Indonesia Hebat”, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, rajin belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Menurut dia, MBG juga mendukung pendidikan karakter yang menjadi prioritas pemerintah, meliputi penanaman nilai spiritual, sosial, disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, budaya bersih, dan tata krama.
“Jadi MBG memiliki kaitan yang sangat langsung dengan program Kementerian Dikdasmen,” ujarnya.
Berdasarkan laporan terakhir Sekjen Kemendikdasmen, jumlah penerima MBG saat ini mencapai 49.614.433 siswa dari total 53.394.088 siswa atau sekitar 93 persen. Masih terdapat 3.780.445 siswa yang belum menerima program tersebut.
Adapun sekolah yang telah menerima MBG sebanyak 288.845 dari total 434.812 satuan pendidikan, atau sekitar 66,5 persen dari seluruh sekolah di Indonesia. “Jadi capaiannya sudah sangat tinggi,” kata Mu’ti.
Kemendikdasmen juga mencatat sejumlah temuan terkait dampak MBG terhadap pendidikan karakter dan motivasi belajar. Berdasarkan penelitian bersama Laboratorium Sosio Universitas Indonesia, program ini membantu murid memperoleh akses pangan bergizi, khususnya bagi kelompok sosial ekonomi rendah.
Selain itu, MBG dinilai memberikan pengalaman makan bersama yang menyenangkan serta meningkatkan semangat belajar siswa. Program tersebut juga disebut mendapat respons positif dan dirasakan manfaatnya oleh para murid. (red)


