By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Juang Sumatera Juang Sumatera Juang Sumatera
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Reading: Kapal Imigran Ilegal Asal Myanmar Tenggelam di Malaysia
Share
Font ResizerAa
Juang Sumatera Juang Sumatera
  • Advetorial
  • Bisnis
  • Budaya
  • Digital
  • Industri
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Listrik
Search
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
Nasional

Kapal Imigran Ilegal Asal Myanmar Tenggelam di Malaysia

By Redaksi Published 10 November 2025
Share
3 Min Read
Polisi Malaysia sedang menemukan jenazah imigran
SHARE

JAKARTA, Juangsumatera.com – Pihak badan maritim Malaysia menemukan setidaknya tujuh jenazah setelah sebuah kapal yang membawa migran terbalik di dekat perbatasan Thailand. Kapal yang membawa imigran gelap tersebut disebut berasal dari Myanmar.

Dilansir AFP, Senin (10/11/2025) dan dikutip dari detiknews, para pejabat yakin kapal tersebut membawa migran tanpa dokumen yang berangkat dari Myanmar, bagian dari kelompok yang terdiri dari setidaknya 300 orang yang telah terbagi di beberapa kapal.

Kapal yang terbalik di dekat Pulau Tarutao, Thailand, dan tepat di utara resor pulau Langkawi, Malaysia, membawa sekitar 90 orang, kata kepala polisi negara bagian Kedah, Adzli Abu Shah, kepada media Malaysia.

Romli Mustafa, direktur Badan Penegakan Maritim Malaysia di negara bagian utara Kedah dan Perlis, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tiga orang yang selamat ditemukan pada Minggu (9/11), di perairan sekitar Langkawi serta enam jenazah, sehingga jumlah korban tewas menjadi tujuh. Setidaknya 13 orang telah diselamatkan dalam keadaan hidup.

Diterangkan lebih lanjut oleh Romli, jenazah yang ditemukan pada Minggu (9/11) adalah seorang gadis dan lima perempuan, tanpa mengungkapkan kewarganegaraan atau etnis mereka. Jenazah yang ditemukan pada hari Sabtu (8/11) diyakini seorang perempuan dari minoritas Rohingya yang teraniaya di Myanmar, ujar Adzli kepada kantor berita nasional Bernama.

Upaya pencarian dan penyelamatan berakhir hari itu dan akan dilanjutkan pada Senin (10/11), tambah Romli, seraya menambahkan bahwa ada kemungkinan lebih banyak korban selamat atau korban dapat ditemukan di laut. Kapal itu kemungkinan tenggelam tiga hari yang lalu, menurut kepala polisi negara bagian.

Dua kapal lain, yang diyakini membawa sebagian dari 300 migran yang telah berangkat dari Myanmar, juga dilaporkan hilang, kata Adzli seperti dikutip oleh situs berita Free Malaysia Today.

Ia mengatakan penyelidikan awal menunjukkan bahwa kelompok itu menaiki kapal besar yang membawa mereka ke perairan dekat Malaysia. “Saat mereka mendekati perbatasan, mereka diperintahkan untuk pindah ke tiga kapal yang lebih kecil, masing-masing membawa sekitar 100 orang,” ujarnya kepada Bernama.

“Kami telah meminta Badan Penegakan Maritim Malaysia dan Kepolisian Perairan untuk melancarkan operasi pencarian dan penyelamatan serta mencari kapal-kapal lain yang hilang,” kata Adzli, dikutip New Straits Times.

Kepolisian Malaysia tidak menanggapi permintaan komentar dari AFP. Malaysia yang relatif makmur merupakan rumah bagi jutaan migran dari kawasan Asia yang lebih miskin, banyak di antaranya tidak berdokumen, yang bekerja di berbagai industri termasuk konstruksi dan pertanian.

“Namun, penyeberangan yang difasilitasi oleh sindikat perdagangan manusia seringkali berbahaya, yang menyebabkan kapal-kapal terbalik. “Sindikat lintas batas kini semakin aktif mengeksploitasi migran dengan menjadikan mereka korban perdagangan manusia melalui jalur laut berisiko tinggi,” kata Romli.

Sindikat-sindikat tersebut mengenakan biaya hingga $3.500 per orang untuk masuk ke negara tersebut, menurut media Malaysia. Dalam salah satu bulan terburuk, pada Desember 2021, lebih dari 20 migran tenggelam dalam beberapa insiden di lepas pantai Malaysia. (rfs/rfs/red)

Redaksi 10 November 2025 10 November 2025
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Berikan Ulasan Anda untuk Berita ini
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Previous Article Besok, Prabowo Bakal Umumkan 10 Pahlawan Nasional
Next Article Warga Ridan Permai Ditemukan Meninggal, Sudah 11 Hari Hilang
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Nasional

Abraham Samad Ungkap Isi Pertemuan Prabowo dengan Para Tokoh

1 Februari 2026
Nasional

Diam-Diam Kapal Intel China Berlayar Dekat Iran

30 Januari 2026
Nasional

Trump Kumpulkan Israel dan Saudi, Persiapan Serang Iran

30 Januari 2026
Nasional

Banjir di Bekasi Meluas, 49 Desa di 16 Kecamatan Terendam

29 Januari 2026
Show More

JUANG SUMATERA

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan

Sekilas

Menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik.
Kategori Lainnya
  • Riau
  • Infrastruktur
  • Digital
  • Keuangan
 
  • Bisnis
  • Industri
  • Listrik
  • Pertambangan

Langganan Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form]
© juangsumatera.com - All Right Reserved
Welcome Back!

Masuk ke akun Anda

Lost your password?