JAKARTA, Juangsumatera.com — Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk urusan Timur Tengah, Steve Witkoff, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Oman, Sabtu (12/4/2025).
Pertemuan langka secara tak langsung itu terjadi di tengah ketegangan kedua negara yang semakin meningkat belakangan ini. AS sebelumnya kembali mengancam akan menyerang Iran.
Dalam siaran televisi, Araghchi mengatakan pembicaraan itu terkait dengan keinginan AS agar kesepakatan nuklir dengan Iran tercapai secepat mungkin.
“Pihak Amerika juga menyampaikan bahwa kesepakatan positif adalah kesepakatan yang dapat dicapai secepat mungkin, tapi itu tidak akan mudah dan membutuhkan kemauan dari kedua belah pihak,” kata Araghchi, seperti dikutip AFP, Sabtu (12/4) dan dilansir dari CNN Indonesia.
“Saya pikir kami sudah sangat dekat dengan dasar untuk bernegosiasi. Baik kami maupun pihak lain tidak menginginkan negosiasi yang sia-sia, diskusi demi diskusi, pemborosan waktu, atau pembicaraan yang berlarut-larut,” lanjut Araghchi.
Araghchi melakukan pertemuan tidak langsung dengan Witkoff yang dimediasi Oman selama lebih dari dua setengah jam. Ini merupakan pembicaraan nuklir AS-Iran tingkat tertinggi pertama sejak kesepakatan nuklir kedua negara berakhir pada 2018 lalu.
Menurut Gedung Putih, pembicaraan ini sangat positif dan konstruktif. Saat ditanya soal pembicaraan ini, Trump di Air Force One mengatakan kepada wartawan bahwa komunikasi tersebut tak berarti sampai kesepakatan tercapai.
Persiapan Dilakukan Trump sebelumnya sudah menyampaikan bahwa AS akan memulai pembicaraan dengan Iran mengenai program nuklir Teheran pada Sabtu ini.
Kesepakatan yang diteken pada 2015 itu bertujuan mencegah Iran membangun senjata nuklir karena hanya membolehkan Iran memperkaya uraniumnya hingga 3,67 persen.
Setelah Trump menarik AS keluar dari perjanjian, Iran pun meningkatkan pengayaan uraniumnya. Saat ini, persediaan Iran sudah memungkinkannya untuk membangun beberapa senjata nuklir.
Laporan terbaru Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) memperkirakan Iran memiliki 274,8 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. (blq/bac/red)


