JAKARTA, Juangsumatera.com – Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat mengecam rentetan serangan drone baru-baru ini yang menargetkan ladang-ladang minyak di wilayah Kurdistan, Irak.
“Serangan ini menargetkan perusahaan-perusahaan internasional yang bekerja sama dengan Irak untuk berinvestasi di masa depan Irak,” kata juru bicara Deplu AS, Tammy Bruce, dilansir dari Al Arabiya dan Reuters, Kamis (17/7/2025) dan dikutip dari detiknews.
Dia menyebut serangan tersebut sebagai ancaman bagi stabilitas dan masa depan ekonomi Irak.
Sebelumnya pada Rabu (16/7) dini hari waktu setempat, drone-drone bermuatan bahan peledak kembali menghantam tiga ladang minyak di wilayah otonomi Kurdistan, Irak utara. Ini terjadi setelah serangan serupa menyebabkan terhentinya operasi di sebuah ladang minyak yang dikelola perusahaan Amerika Serikat.
Dalam beberapa minggu terakhir, Irak, khususnya wilayah Kurdistan, telah mengalami serangkaian serangan drone dan roket. Tak ada pihak-pihak atau kelompok yang mengklaim serangan tersebut.
Serangan pada hari Rabu (16/7) ini telah meningkatkan jumlah ladang minyak yang diserang di Kurdistan menjadi lima dalam seminggu.
Irak, yang telah lama dilanda konflik, sering mengalami serangan semacam itu, yang seringkali terkait dengan perebutan proksi regional antara Iran dan Amerika Serikat serta sekutunya, Israel.
Serangan hari Rabu (16/7) ini terjadi sehari setelah serangan drone bermuatan bahan peledak menyebabkan perusahaan AS, HKN Energy menghentikan operasi di ladang minyak Sarsang di Duhok. (ita/red)


