TOKYO, Juangsumatera.com – Pemerintah Jepang berencana menempatkan rudal permukaan-ke-udara di Pulau Yonaguni, sebuah pulau terpencil yang berbatasan langsung dengan Taiwan, paling lambat Maret 2031.
Langkah ini menandai pertama kalinya Jepang menetapkan tenggat waktu spesifik sejak rencana tersebut pertama kali diumumkan pada 2022.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengungkapkan, Yonaguni akan dilengkapi dengan sistem rudal permukaan-ke-udara jarak menengah.
Sistem ini dirancang khusus untuk mencegat pesawat maupun rudal musuh yang masuk ke wilayah kedaulatan Negeri Sakura, sebagaimana dilansir BBC, Rabu (25/2/2026) dan dikutip dari KOMPAS.com.
Sistem rudal buatan dalam negeri Jepang ini memiliki kemampuan operasional yang signifikan. Rudal tersebut memiliki jangkauan sekitar 50 kilometer dengan kemampuan radar 360 derajat.
Rudal ini juga mampu melacak hingga 100 target secara bersamaan dan dapat menyerang hingga 12 target dalam waktu yang sama. Mengenai jadwal pasti pengoperasiannya, Koizumi memberikan catatan terkait kesiapan infrastruktur di lapangan.
“Waktu pengerahan unit rudal tersebut mungkin berubah tergantung pada kemajuan perbaikan fasilitas di masa depan, namun rencana saat ini adalah untuk tahun fiskal 2030,” ujar Koizumi, Selasa (24/2/2026).
Secara geografis, Yonaguni memiliki posisi yang sangat strategis. Pulau ini hanya berjarak 110 kilometer dari pesisir Taiwan.
Dalam 10 tahun terakhir, Jepang telah mengubah pulau yang dulunya tenang ini menjadi pos militer terdepan. Saat ini, Yonaguni telah dihuni oleh sekitar 160 anggota Pasukan Bela Diri Jepang yang bertugas melakukan pengawasan pantai.
Tak hanya rudal, pemerintah juga berencana mengaktifkan unit peperangan elektronik untuk mengganggu komunikasi dan radar musuh pada tahun fiskal 2026.
Pengumuman ini muncul selang sehari setelah China memberlakukan pembatasan ekspor terhadap 20 perusahaan dan entitas Jepang dengan alasan keamanan nasional.
Hubungan antara Tokyo dan Beijing memang dilaporkan berada pada titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Ketegangan kedua negara dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025.
Kala itu, dia mengisyaratkan bahwa Pasukan Bela Diri Jepang akan diaktifkan jika terjadi serangan terhadap Taiwan.(red)


