JAKARTA, Juangsumatera.com – Pemerintah Inggris secara resmi bakal mengumpulkan 35 negara, tanpa melibatkan Amerika Serikat (AS), guna mencari jalan keluar untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dan gas dunia tersebut saat ini masih diblokade oleh pihak Iran.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menyatakan, bahwa fase diskusi selanjutnya dalam upaya bersama Inggris dan Prancis untuk mengamankan jalur air tersebut akan diadakan pada Kamis (2/4/2026) dkutip dari CNBC Indonesia.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut akan dihadiri langsung oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper bersama dengan para pemimpin internasional lainnya.
Langkah berani ini diambil setelah Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa tanggung jawab untuk membuat selat tersebut aman akan diserahkan kepada negara lain jika AS menghentikan serangannya terhadap Teheran. Trump juga melontarkan kritik tajam atas kurangnya dukungan dari negara-negara Eropa terhadap langkah militernya.
Starmer mengatakan pada hari Rabu bahwa pertemuan tersebut akan menyatukan 35 negara untuk menilai semua langkah diplomatik dan politik yang layak guna memulihkan kebebasan navigasi. Upaya ini ditujukan untuk menjamin keselamatan kapal dan pelaut yang terjebak, serta untuk melanjutkan kembali pergerakan komoditas penting.
“Pertemuan ini akan menilai semua langkah diplomatik dan politik yang layak yang dapat kita ambil untuk memulihkan kebebasan navigasi, menjamin keselamatan kapal dan pelaut yang terjebak, serta melanjutkan pergerakan komoditas vital,” ujar Starmer, dilansir The Guardian.
Kantor Perdana Menteri Inggris menyatakan bahwa ini merupakan pertama kalinya negara-negara tersebut berkumpul untuk membahas rencana yang layak demi membuka kembali selat tersebut.
Perdana menteri menyebut perencana militer Inggris akan bertemu setelahnya untuk mempelajari cara mengerahkan kapabilitas guna membuat selat dapat diakses dan aman setelah pertempuran berhenti.
Namun, Starmer yang telah mengumpulkan para bos energi dan pelayaran di kantornya Senin lalu, memperingatkan bahwa proses pembersihan jalur akan memakan waktu lama setelah permusuhan berakhir. Ia menegaskan bahwa situasi ini tidak akan mudah untuk diselesaikan dalam waktu singkat.
Menurut Starmer, para pelaku industri memberikan gambaran yang jelas bahwa tantangan utama yang mereka hadapi bukanlah soal asuransi, melainkan keselamatan dan keamanan jalur perlintasan.
Oleh karena itu, diperlukan persatuan kekuatan militer dan aktivitas diplomatik, serta kemitraan dengan industri agar mereka dapat melakukan mobilisasi setelah pertempuran berhenti.
Mereka jelas bagi saya, tantangan utama yang mereka hadapi bukanlah soal asuransi, melainkan keamanan dan keselamatan perlintasan.
Jadi, faktanya, kita membutuhkan semua ini bersama-sama-front persatuan kekuatan militer dan aktivitas diplomatik, kemitraan dengan industri, sehingga mereka juga dapat melakukan mobilisasi setelah pertempuran berhenti dan, yang terpenting, kepemimpinan yang jelas dan tenang. Itulah yang siap diberikan, terang nya. (red)


