NEW YORK, Juangsumatera.com – Harga emas dunia menguat pada akhir perdagangan Selasa (31/3/2026) waktu setempat atau Rabu (1/4/2026) pagi WIB, meski masih berada di jalur penurunan bulanan terdalam sejak Oktober 2008.
Kenaikan harga emas terjadi di tengah meningkatnya optimisme meredanya konflik di Timur Tengah. Namun, kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan serta ekspektasi suku bunga tinggi akibat dampak perang masih membebani logam mulia tersebut.
Mengutip Reuters dan dilansir dari KOMPAS.com, harga emas di pasar spot naik 3,2 persen menjadi 4.652,31 dollar AS per ons, level tertinggi sejak 20 Maret.
Sementara kontrak emas berjangka AS ditutup menguat 2,7 persen ke posisi 4.678,60 dollar AS per ons. Penguatan emas juga terjadi seiring pelemahan dollar AS.
Melemahnya dollar AS membuat harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga meningkatkan minat investor terhadap logam kuning ini.
“Reli emas saat ini cukup menggembirakan dan didorong oleh meningkatnya optimisme terhadap deeskalasi di Timur Tengah. Namun, masih perlu melihat kinerja kenaikan lebih lanjut untuk memastikan ini menjadi tren berkelanjutan,” ujar Wakil Presiden sekaligus analis senior logam di Zaner Metals, Peter Grant.
“Dalam jangka panjang, tren dasarnya tetap bullish, dengan dukungan fundamental utama seperti de-dolarisasi dan pembelian oleh bank sentral yang masih berlangsung,” terangnya.
Di sisi lain, laporan The Wall Street Journal menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran meski Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan beberapa hari ke depan akan menjadi penentu dalam konflik tersebut dan memperingatkan Iran bahwa perang bisa semakin intens jika tidak tercapai kesepakatan.
Adapun sepanjang Maret 2026, harga emas tercatat turun sekitar 11,8 persen, tertekan lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Kenaikan harga energi tersebut membuat pelaku pasar kembali menilai arah suku bunga. Meski emas dikenal sebagai aset aman (safe haven) saat inflasi dan ketidakpastian, namun suku bunga tinggi membuat emas kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi proyeksi, BMI mempertahankan perkiraan harga emas tahun 2026 di rata-rata 4.600 dollar AS per ons. Sementara itu, Goldman Sachs masih memproyeksikan harga emas dapat mencapai 5.400 dollar AS per ons pada akhir 2026. (red)


