By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Juang Sumatera Juang Sumatera Juang Sumatera
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Reading: AS Makin Ngeri, Bak Perang Saudara Chicago Dikepung Tentara
Share
Font ResizerAa
Juang Sumatera Juang Sumatera
  • Advetorial
  • Bisnis
  • Budaya
  • Digital
  • Industri
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Listrik
Search
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
Nasional

AS Makin Ngeri, Bak Perang Saudara Chicago Dikepung Tentara

By Redaksi Published 8 Oktober 2025
Share
3 Min Read
Presiden AS, Donald Trump
SHARE

JAKARTA, Juangsumatera.com – Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan sejumlah kota yang dipimpin Partai Demokrat memanas. Ancaman Trump untuk menerapkan Insurrection Act atau Undang-Undang Pemberontakan memicu perdebatan sengit soal batas kekuasaan presiden atas penggunaan militer di dalam negeri.

Pada Selasa (7/10/2025) waktu setempat, ratusan personel Garda Nasional Texas dilaporkan berkumpul di fasilitas Angkatan Darat di Elwood, Illinois. Ini terjadi di tengah ancaman Trump mengerahkan pasukan ke lebih banyak kota besar seperti Chicago dan Portland. Langkah itu menimbulkan kekhawatiran akan militerisasi sipil dan pelanggaran kewenangan negara bagian.

Trump menyatakan, pengerahan pasukan diperlukan untuk menjaga ketertiban dan melindungi fasilitas pemerintah federal.

“Jika Anda melihat Chicago, itu kota besar dengan banyak kejahatan. Kalau gubernurnya tidak bisa menangani, kami yang akan melakukannya. Sesederhana itu,” kata Trump di Gedung Putih, seperti dikutip Reuters dan dilansir dari CNBC Indonesia.

Namun, pernyataan itu memantik kritik keras dari para pejabat Demokrat yang menilai langkah tersebut sebagai upaya memperluas kekuasaan presiden secara sewenang-wenang. Gubernur Illinois JB Pritzker menuduh Trump menggunakan militer untuk kepentingan politik.

“Donald Trump menjadikan anggota militer kita sebagai alat peraga politik dan pion dalam upaya ilegalnya untuk memiliterisasi kota-kota di negara ini,” tegas Pritzker.

Illinois dan pemerintah kota Chicago menggugat administrasi Trump, berupaya menghentikan pengerahan 700 pasukan Garda Nasional yang sebagian besar berasal dari Texas dan Illinois. Hakim federal April Perry mengizinkan pengerahan sementara sambil menunggu tanggapan resmi pemerintah AS.

Sementara itu, seorang hakim federal di Oregon memblokir rencana pengiriman pasukan tambahan ke Portland. Pejabat setempat menilai situasi di lapangan tidak seperti yang digambarkan Trump sebagai zona perang.

Undang-Undang Pemberontakan memberikan kewenangan kepada presiden untuk mengerahkan militer dalam menanggapi kerusuhan besar, biasanya atas permintaan gubernur. Terakhir kali aturan ini digunakan pada 1992 oleh Presiden George H.W. Bush saat kerusuhan Los Angeles.

Pensiunan Mayor Jenderal Randy Manner menilai langkah Trump berpotensi melanggar norma hukum dan demokrasi.

“Ini langkah yang sangat berbahaya, karena pada dasarnya berarti presiden bisa melakukan apa pun yang diinginkannya. Itu definisi kediktatoran dan fasisme,” ujarnya.

Penggunaan undang-undang tersebut tanpa restu negara bagian akan menjadi eskalasi besar terhadap kebijakan keamanan domestik AS. Sejak memulai masa jabatan keduanya pada Januari, Trump terus memperluas peran militer dalam urusan sipil dan memperkuat posisi eksekutif melampaui batas konstitusional.

Di Chicago dan Portland, protes terhadap kebijakan imigrasi Trump tetap berlangsung damai. Aktivitas warga pun berjalan normal. Restoran, teater, hingga kawasan wisata tepi danau tetap ramai. Namun di pinggiran Broadview, beberapa demonstrasi sempat diwarnai bentrokan kecil dengan aparat federal.

Meski begitu, sebagian pengamat menilai ancaman Trump menggunakan Insurrection Act lebih bersifat simbolis untuk menunjukkan ketegasan politik menjelang pemilihan sela, ketimbang langkah nyata untuk menekan kerusuhan. (tfa/tfa/red)

Redaksi 8 Oktober 2025 8 Oktober 2025
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Berikan Ulasan Anda untuk Berita ini
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Previous Article Komisi III DPR Dukung Polda Jatim Untuk Usut Ponpes Al Khoziny Ambruk
Next Article KPK : Saksi Kasus Kuota Haji Kooperatif, jika Tidak Akan Dijemput Paksa
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Nasional

Diam-Diam Kapal Intel China Berlayar Dekat Iran

30 Januari 2026
Nasional

Trump Kumpulkan Israel dan Saudi, Persiapan Serang Iran

30 Januari 2026
Nasional

Banjir di Bekasi Meluas, 49 Desa di 16 Kecamatan Terendam

29 Januari 2026
Nasional

Dadan Hidayana : BGN Senang Kalau Ada Viral, Teguran Buat SPPG

29 Januari 2026
Show More

JUANG SUMATERA

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan

Sekilas

Menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik.
Kategori Lainnya
  • Riau
  • Infrastruktur
  • Digital
  • Keuangan
 
  • Bisnis
  • Industri
  • Listrik
  • Pertambangan

Langganan Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form]
© juangsumatera.com - All Right Reserved
Welcome Back!

Masuk ke akun Anda

Lost your password?