By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Juang Sumatera Juang Sumatera Juang Sumatera
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Reading: SBY : Banyak Negara Berkembang Habiskan Anggaran Bayar Utang
Share
Font ResizerAa
Juang Sumatera Juang Sumatera
  • Advetorial
  • Bisnis
  • Budaya
  • Digital
  • Industri
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Listrik
Search
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
Keuangan

SBY : Banyak Negara Berkembang Habiskan Anggaran Bayar Utang

By Redaksi Published 2 Juni 2026
Share
3 Min Read
SBY dalam acara International Conference di Perbanas Institute
SHARE

JAKARTA, Juangsumatera.com – Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan saat ini dunia sedang memasuki era yang penuh dengan ketidakpastian. Menurutnya kondisi ini turut mempengaruhi kondisi pasar keuangan domestik berbagai negara.

Ketidakpastian tersebut turut menambah beban pengeluaran negara. Alhasil banyak negara, khususnya negara berkembang, harus menarik banyak utang untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

Masalahnya kondisi ini turut menjadi beban tersendiri bagi negara. Sebab lambat laun negara itu harus menghabiskan lebih banyak anggaran untuk membayar utang alih-alih melakukan pembangunan yang berkelanjutan.

“Kita juga melihat tekanan yang semakin besar terhadap keuangan publik. Banyak negara berkembang menghabiskan lebih banyak anggaran untuk pembayaran utang, sementara kebutuhan pembiayaan untuk kesehatan, pendidikan, infrastruktur, transisi energi, dan adaptasi iklim terus meningkat,” papar SBY dalam acara International Conference di Perbanas Institute, Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2026) dikutip dari detikfinance.

SBY juga mengatakan, negara-negara berkembang termasuk Indonesia harus menyusun strategi pembangunan sesuai karakteristik dan kemampuan masing-masing negara.

“Dalam situasi global seperti ini, negara-negara berkembang seperti Indonesia harus bersikap bijaksana. Kita tidak bisa begitu saja meniru jalur yang ditempuh negara maju. Kita harus merancang strategi pembangunan kita sendiri,” ujar SBY.

SBY berpendapat, negara berkembang termasuk Indonesia harus bisa menjaga keseimbangan antara mendorong pelaku pasar untuk menggerakkan ekonomi domestik dengan tetap mempertahankan kepentingan sosial masyarakat secara umum.

“Terbuka terhadap dunia, tetapi berakar pada kepentingan nasional. Berorientasi pada pasar, tetapi tetap bertanggung jawab secara sosial. Berorientasi pada pertumbuhan, tetapi berkelanjutan secara lingkungan. Maju secara digital, tetapi tetap berpusat pada manusia,” tegas SBY.

Kondisi ketidakpastian sendiri akan terus terjadi imbas perpecahan ekonomi global hingga pengaruh geopolitik dari berbagai konflik. Urusan geopilitik juga telah ikut mempengaruhi preferensi perdagangan internasional di berbagai negara.

“Ekonomi global menghadapi fragmentasi. Perdagangan tidak lagi hanya didorong oleh efisiensi, tetapi juga oleh geopolitik. Teknologi menjadi sumber produktivitas sekaligus arena persaingan,” papar SBY.

Sebagai informasi, utang pemerintah Indonesia sendiri sejauh ini mengalami peningkatan. Terakhir, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mengumumkan posisi utang pemerintah per akhir Maret 2026 mencapai Rp 9.920,42 triliun. Jumlah itu naik Rp 282,52 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 9.637,90 triliun.

Utang pemerintah yang mencapai Rp 9.920,42 triliun itu setara 40,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski meningkat dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang setara 40,46% PDB, angkanya masih di bawah batas aman Undang-Undang Keuangan Negara yang sebesar 60% PDB.

“Pemerintah mengelola utang secara cermat dan terukur untuk mencapai portofolio utang yang optimal dan mendukung pengembangan pasar keuangan domestik,” tulis laporan di website resmi DJPPR, dikutip Jumat (8/5/2026) yang lalu. (igo/hal/red)

Redaksi 2 Juni 2026 2 Juni 2026
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Berikan Ulasan Anda untuk Berita ini
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Previous Article Anggota DPR : Lebih Baik BGN Fokus Didalam Negeri
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Keuangan

Pengusaha Buka Suara, Terkait Ekspor Sawit dan Batu Bara Lewat PT DSI

1 Juni 2026
Keuangan

Tembus Rp 581 Triliun Laba Raksasa Migas Arab

11 Mei 2026
Keuangan

Prabowo Pangkas Harga Pupuk Subsidi 20 Persen di Tengah Krisis Global

5 Mei 2026
Keuangan

Inflasi April Terkendali Berkat Subsidi BBM

5 Mei 2026
Show More

JUANG SUMATERA

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan

Sekilas

Menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik.
Kategori Lainnya
  • Riau
  • Infrastruktur
  • Digital
  • Keuangan
 
  • Bisnis
  • Industri
  • Listrik
  • Pertambangan

Langganan Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form]
© juangsumatera.com - All Right Reserved
Welcome Back!

Masuk ke akun Anda

Lost your password?