By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Juang Sumatera Juang Sumatera Juang Sumatera
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Reading: Teheran Ajukan Tiga Syarat, Iran dan AS Mulai Lagi Perundingan Nuklir
Share
Font ResizerAa
Juang Sumatera Juang Sumatera
  • Advetorial
  • Bisnis
  • Budaya
  • Digital
  • Industri
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Listrik
Search
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
Nasional

Teheran Ajukan Tiga Syarat, Iran dan AS Mulai Lagi Perundingan Nuklir

By Redaksi Published 27 Februari 2026
Share
3 Min Read
Bendera AS dan Iran
SHARE

JAKARTA, Juangsumatera.com – Iran memulai perundingan penting terkait program nuklir dengan Amerika Serikat (AS) pada Kamis (26/2/2026). Pemerintah Iran menegaskan kesepakatan masih mungkin dicapai selama Washington mematuhi tiga syarat utama yang diajukan Teheran.

Sejumlah diplomat Iran menyebut tiga syarat tersebut meliputi pengakuan hak simbolis Iran untuk memperkaya uranium, izin untuk mengurangi stok uranium yang sangat diperkaya, serta tidak adanya tuntutan pembatasan terhadap program rudal balistik Iran. Namun, belum jelas apakah Presiden AS Donald Trump menyetujui parameter tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menegaskan isu rudal balistik menjadi perhatian utama Washington. “Ini akan menjadi masalah besar jika Iran tidak mau bernegosiasi soal rudal,” kata Rubio.

Sementara itu, utusan khusus AS Steve Witkoff bersama Jared Kushner disebut telah menerima prinsip-prinsip dasar tersebut dalam dua putaran perundingan tidak langsung sebelumnya. Mereka dijadwalkan menuju Jenewa untuk melanjutkan pembahasan.

Sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran mengatakan, proposal awal dari pihak AS dinilai relatif longgar. Namun, tidak ada tawaran pelonggaran sanksi secara langsung, sehingga Iran masih menghadapi tekanan ekonomi.

“Permintaan utama hanyalah pembatasan pengayaan uranium di bawah 5% dan pengalihan penuh untuk penggunaan sipil,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Guardian dan dilansir dari CNBC Indonesia.

Menjelang keberangkatan ke Jenewa, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan target Teheran adalah mencapai kesepakatan secepat mungkin.

“Iran tidak akan pernah berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun, kami juga tidak akan melepaskan hak kami atas teknologi nuklir damai,” kata Araghchi. “Mencapai kesepakatan dimungkinkan, tetapi hanya jika diplomasi diprioritaskan.”

Pernyataan tersebut muncul di tengah nada keras dari Trump dalam pidato kenegaraan yang memperingatkan ancaman rudal balistik Iran dan kembali menuding Teheran sebagai sponsor terorisme. Trump juga mengklaim Iran masih mengejar ambisi senjata nuklir, tuduhan yang dibantah keras oleh pemerintah Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei bahkan membandingkan pernyataan Trump dengan propaganda Joseph Goebbels. “Apapun yang mereka tuduhkan hanyalah pengulangan ‘kebohongan besar’,” tulis Baqaei di media sosial X.

Kehadiran Raphael Grossi, kepala badan pengawas nuklir PBB, dalam perundingan Jenewa juga dinilai krusial. Grossi memiliki kewenangan untuk menilai apakah akses verifikasi yang ditawarkan Iran memenuhi standar internasional.

Iran juga disebut siap membantu Trump mengklaim bahwa kesepakatan baru ini lebih baik dibanding perjanjian nuklir 2015 yang dicapai di era Barack Obama. Langkah ini dipandang penting bagi kepentingan politik domestik AS.

Sementara proses diplomasi berlangsung, situasi domestik Iran masih bergejolak. Protes mahasiswa dilaporkan terus terjadi di sejumlah universitas, hampir dua bulan setelah gelombang demonstrasi antipemerintah merebak di berbagai kota. (luc/luc/red)

Redaksi 27 Februari 2026 27 Februari 2026
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Berikan Ulasan Anda untuk Berita ini
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Previous Article Ramai Negara Minta Warganya Tinggalkan Iran
Next Article Kerry Adrianto Divonis 15 Tahun, Juga Bayar Uang Pengganti Rp 2,9 Triliun
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Nasional

Raksasa Migas Italia Temukan Gas Jumbo di Indonesia

20 April 2026
Nasional

Andre Rosiade Bantu Pengobatan Lansia di Padang

20 April 2026
Nasional

Israel Perintahkan Serangan Penuh di Lebanon Meski Gencatan Senjata Berlaku

20 April 2026
Nasional

Malaysia Gabung Dalam Barisan Negara Pemburu Minyak Rusia

20 April 2026
Show More

JUANG SUMATERA

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan

Sekilas

Menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik.
Kategori Lainnya
  • Riau
  • Infrastruktur
  • Digital
  • Keuangan
 
  • Bisnis
  • Industri
  • Listrik
  • Pertambangan

Langganan Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form]
© juangsumatera.com - All Right Reserved
Welcome Back!

Masuk ke akun Anda

Lost your password?