WASHINGTON DC, Juangsumatera.com – Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mempersiapkan skenario operasi militer yang berlangsung selama berminggu-minggu terhadap Iran.
Persiapan ini dilakukan sebagai antisipasi jika Presiden AS Donald Trump memberikan perintah penyerangan, sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (15/2/2026) dan dikutiop dari KOMPAS.com.
Dua pejabat AS yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan, perencanaan ini memiliki risiko yang sangat tinggi, mengingat diplomasi antara Washington dan Teheran saat ini juga sedang berjalan. Perencanaan militer kali ini disebut jauh lebih kompleks dibandingkan operasi Midnight Hammer pada Juni tahun lalu.
Saat itu, bomber siluman AS hanya melakukan serangan tunggal terhadap fasilitas nuklir Iran, yang dibalas secara terbatas oleh Teheran ke pangkalan AS di Qatar.
Dalam kampanye militer nanti, pejabat AS menyebut militer bisa menyasar fasilitas negara dan keamanan Iran, bukan sekadar infrastruktur nuklir.
Namun, langkah ini membawa risiko besar. Para ahli memperingatkan bahwa Iran memiliki gudang rudal yang tangguh yang dapat memicu serangan balasan dan menyeret kawasan ke dalam perang yang lebih luas.
“AS sepenuhnya memperkirakan Iran akan membalas, yang akan menyebabkan serangan balasan dari waktu ke waktu,” ungkap salah satu pejabat tersebut.
Teheran sendiri melalui Garda Revolusi Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayah mereka akan dibalas dengan serangan ke pangkalan militer AS.
Saat ini, pangkalan AS tersebar di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Turkiye. (red)


