By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Juang Sumatera Juang Sumatera Juang Sumatera
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Reading: Timur Tengah Memanas Lagi, Arab Saudi Tiba-Tiba Serang UEA
Share
Font ResizerAa
Juang Sumatera Juang Sumatera
  • Advetorial
  • Bisnis
  • Budaya
  • Digital
  • Industri
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Listrik
Search
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Olahraga
  • Riau
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Inhil
    • Inhu
    • Kampar
    • Kuansing
    • Meranti
    • Pekanbaru
    • Pelalawan
    • Rohil
    • Rohul
  • Peristiwa
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Wisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
Nasional

Timur Tengah Memanas Lagi, Arab Saudi Tiba-Tiba Serang UEA

By Redaksi Published 25 Januari 2026
Share
4 Min Read
Photo ilustrasi
SHARE

JAKARTA, Juangsumatera.com – Ketegangan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali memanas setelah kampanye media Saudi yang menargetkan Abu Dhabi makin agresif.

Perseteruan ini disebut menjadi yang terburuk di kawasan Teluk dalam beberapa tahun terakhir, dan dikhawatirkan memicu dampak lanjutan di pusat keuangan Timur Tengah.

Melansir AFP, ketegangan meningkat setelah konflik singkat di Yaman, ketika serangan udara Saudi menghentikan ofensif kelompok separatis yang didukung UEA. Sejak itu, tudingan keras soal pelanggaran hak hingga “pengkhianatan” ramai beredar di media pemerintah dan media sosial.

Media pemerintah Saudi, Al-Ekhbariya TV, menuding UEA ikut memperkeruh konflik regional.

Uni Emirat Arab disebut berinvestasi dalam kekacauan dan mendukung kelompok separatis dari Libya hingga Yaman serta Tanduk Afrika, demikian tudingan Al-Ekhbariya TV milik Saudi dalam laporan pekan ini.

Analis keamanan Teluk, Anna Jacobs, menilai gesekan lama kini terbuka secara tidak biasa.

“Dalam kondisi normal, monarki Teluk sangat berupaya menampilkan citra damai dan stabil, tetapi kini titik-titik gesekan yang sudah lama ada, terbuka ke publik dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Anna, dilansir dari AFP, Minggu (25/1/2026) dan dikutip dari CNBC Indonesia.

“Saling serang di media sosial mengingatkan banyak dari kami pada keretakan Teluk yang terakhir. Sekarang Riyadh menyorot sangat terang masalahnya dengan kebijakan regional Abu Dhabi, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda,” sambungnya.

Sementara itu, Abu Dhabi cenderung memilih diam. Profesor ilmu politik UEA Abdulkhaleq Abdulla menyebut negaranya tidak ingin memancing konflik. ”UEA tidak punya kebiasaan memprovokasi kakak besar kami,” kata Abdulla.

Kami telah menjadi, karena keberhasilan kami sendiri, sebuah panutan, sebuah kekuatan regional. Apakah itu salah kami, lanjut dia.”Kami tidak ingin memprovokasi Arab Saudi,” tegasnya.

Dari pihak Saudi, analis Soliman Al-Okaily menyebut ada kekecewaan mendalam terhadap UEA.

“Ada perasaan yang mendalam di Saudi bahwa Uni Emirat Arab telah mengkhianati kemitraan strategis dengan Saudi dan kini memicu krisis di dalam lingkup pengaruh strategis Saudi,” kata Al-Okaily.

“Media Saudi pun mengisyaratkan langkah balasan. “Dengan Abu Dhabi yang menghasut melawan Arab Saudi, kerajaan tidak akan ragu mengambil langkah dan tindakan yang diperlukan terhadapnya,” demikian bunyi buletin Ekhbariya pekan ini.

Meski kecil kemungkinan terjadi putus hubungan, Okaily memperingatkan Riyadh bisa mengambil tekanan ekonomi. “Riyadh bisa mengambil langkah-langkah ekonomi yang menyakitkan,” ujarnya.

Di tengah ketegangan, manuver diplomatik kedua negara juga bergerak cepat. UEA bertemu India untuk mendorong kemitraan pertahanan strategis, sementara Saudi meneken perjanjian pertahanan dengan Pakistan.

Pekan ini, presiden UEA bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi, dan sepakat untuk bekerja menuju kemitraan pertahanan strategis.

Itu terjadi setelah Riyadh menandatangani perjanjian pertahanan dengan Pakistan, rival India yang memiliki senjata nuklir.

Analis New America, Adam Baron, menilai konflik ini belum mengarah pada pecah total, meski tensinya tinggi. “Meski serangan publik berlangsung ganas, masih ada jarak sebelum benar-benar terjadi perpecahan total,” kata Baron.

Saya pikir ini sekaligus menjadi sinyal pesan soal potensi menahan diri, tetapi juga menunjukkan kapasitas untuk eskalasi, sambungnya. (luc/luc/red)

Redaksi 25 Januari 2026 25 Januari 2026
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Berikan Ulasan Anda untuk Berita ini
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Previous Article 2 Jenderal China Sedang Diusut di Tengah Upaya Perangi Korupsi
Next Article Jelang Damai, Pasukan Rusia Caplok Lagi Wilayah Ukraina
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Nasional

Diam-Diam Kapal Intel China Berlayar Dekat Iran

30 Januari 2026
Nasional

Trump Kumpulkan Israel dan Saudi, Persiapan Serang Iran

30 Januari 2026
Nasional

Banjir di Bekasi Meluas, 49 Desa di 16 Kecamatan Terendam

29 Januari 2026
Nasional

Dadan Hidayana : BGN Senang Kalau Ada Viral, Teguran Buat SPPG

29 Januari 2026
Show More

JUANG SUMATERA

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan

Sekilas

Menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik.
Kategori Lainnya
  • Riau
  • Infrastruktur
  • Digital
  • Keuangan
 
  • Bisnis
  • Industri
  • Listrik
  • Pertambangan

Langganan Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form]
© juangsumatera.com - All Right Reserved
Welcome Back!

Masuk ke akun Anda

Lost your password?