CARACAS, Juangsumatera.com -Sebuah kapal tanker minyak yang sebelumnya dikenal sebagai Bella 1, yang tengah menghindari otoritas Amerika Serikat (AS) di Samudra Atlantik, kini telah mengubah identitasnya menjadi Marinera dan terdaftar secara resmi di Rusia.
Perubahan ini menimbulkan pertanyaan mengenai upaya kapal tersebut untuk memanfaatkan perlindungan hukum internasional dengan mengibarkan bendera Rusia.
Kapal ini awalnya dihentikan saat dalam perjalanan mengambil minyak dari pelabuhan Venezuela, tetapi menolak untuk disita oleh Penjaga Pantai AS.
Kapal mengubah identitas dan bendera Menurut Russian Maritime Register of Shipping, Bella 1 kini terdaftar sebagai Marinera, dengan bendera Rusia dan pelabuhan asal di Sochi.
Lembaga ini merupakan badan negara yang bertindak sebagai otoritas resmi maritim Kremlin. Upaya kapal untuk mendaftar di Rusia dianggap sebagai langkah untuk menghindari yurisdiksi AS, meskipun pada awalnya kapal tidak membawa bendera sah ketika didekati oleh penjaga pantai.
“Masih belum jelas apakah pendaftaran ‘overnight’ oleh Rusia ini akan sah,” kata David Tannenbaum, mantan petugas kepatuhan sanksi di Departemen Keuangan AS, dikutip dari New York Times, Rabu (31/12/2025) dan dilansir dari KOMPAS.com.
Tannenbaum menambahkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari pola yang lebih luas di mana Rusia berperan sebagai tempat perlindungan terakhir bagi kapal-kapal yang memindahkan minyak dari Rusia, Iran, dan Venezuela dalam pelanggaran sanksi internasional.
Pada Sabtu (20/12/2025), Bella 1 didekati oleh kapal penjaga pantai di Laut Karibia, tetapi kapal menolak dan sejak itu menghindari upaya penyitaan.
Saat itu, kapal tidak membawa bendera nasional yang sah, sehingga dianggap sebagai kapal tanpa kewarganegaraan, yang sah disita menurut hukum internasional.
AS telah mengeluarkan surat perintah penyitaan atas kapal ini karena riwayat pengangkutan minyak Iran, yang menurut pejabat AS digunakan untuk membiayai terorisme.
Meskipun demikian, boarding kapal yang bergerak dengan kru potensial yang bersikap bermusuhan dianggap berisiko tinggi, sehingga penjaga pantai hingga kini hanya memantau pergerakan kapal. (red)


